Coretan Penaku

Anak Nakal Salah Siapa ?

30 Oct 2012 - 09:59 WIB

kelahi

Dalam beberapa coretanku akhir-akhir ini dengan judul dengan diakhiri tanda “?” sebagai tanda mempertanyakan. Kenapa demikian karena kehidupan ini penuh dengan tanda “?” dan kita manusia diberi akal fikiran oleh Tuhan guna mencari jawabannya.

Tak berbeda dengan coretanku yang lalu kali ini saya mempertanyakan dari sebuah peristiwa nyata dilingkungan saya dengan pertanyaan “Anak Nakal Salah Siapa ? “
Coretanku ini bermula ketika kudengar pertengakaran suami isteri yang kebetulan tetangga saya, pertengkaran saling menyalahkan disebabkan anak semata wayangnya ditangkap polisi karena diduga terlibat kejahatan curanmor [pencurian kendaraan bermotor]. Padahal dari segi ekonomi keluarga mereka termasuk golongan mampu sang suami seorang manager disebuah perusahaan dan sang isteri juga bekerja. Kenapa anak yang berkecukupan dari segi ekonomi terlibat dalam sebuah kejahatan ?

Dalam ajaran Islam yang saya anut diajarkan ada beberapa sebab seorang anak menjadi nakal diantaranya :
a. Makanan diperoleh dengan cara haram
b. Kurang beramal terhadap hartanya
c. Kurang mendidik dan memperhatikan anak
d. Karena pergaulan yang salah
Dari poin penyebab kenakalan seorang anak diatas kurang mendidik dan memperhatikan anak, ini banyak dijumpai diera modern sekarang ini, dimana sang suami dan si isteri sibuk dengan kariernya masing-masing guna mengumpulkan harta demi anaknya.

Saya yakin harta dan materi bukan tujuan utama seseorang membentuk rumah tangga, namun kebahagianlah tujuan utama sebuah perkawinan dan karunia anak sebagai amanah . kebahagiaan tersebut akan diperoleh jikalau suami dan isteri menjalankan tugas dan kewajibannya masing-masing. Secara dasar seorang suami berkewajiban mencari nafkah buat keluarga serta membina keluarganya, sementara sang isteri berkewajiban mengabdi pada suami dan mendidik anaknya.

Namun diera sekarang seorang isteri yang harusnya berperan sebagai ibu bagi anaknya sepenuh hati, terkurangi atau bahkan terabaikan karena isteri lebih mementingkan kariernya daripada mendidik anaknya. Mereka berfikir dengan menjejali anak dengan uang banyak anak akan bahagia, padahal saya yakin seorang anak tidak butuh uang semata namun butuh kedekatan, kasih sayang dan perhatian dari kedua orangtuanya.

Jangan heran jikalau perilaku negatif seperti lesbi, homo, konsumsi narkoba, tawuran dan kenakalan lainnya justeru kebanyakan dilakukan oleh anak-anak orangtuanya yang ekonominya berada. Itu semua bentuk pelampiasan bagi anak-anak untuk mencari kasih sayang dan perhatian yang tidak mereka dapatkan dirumahnya, sehingga terjerumus pada pergaulan yang salah. Itu semua karena orangtua menyerahkan pendidikan sehari-harinya kepada seorang baby sister dari masa balita hingga remaja.

Saya tidak melarang seorang isteri berkarier dalam coretanku kali ini, namun demikian saya yakin seorang ibu rumah tangga dan berkarier beban pikiran serta tenaganya semakin berat, terus kenapa hidup yang mudah ini dibuat susah ? tak salah seorang isteri bekerja guna menambah nafkah keluarga namun diketahui bahwa yang berkewajiban mencari nafkah adalah sang suami.
Bukan pula saya menyalahkan seorang isteri karena anaknya nakal, namun bisa dijadikan hikmah dan cermin agar kita kembali kepada kodrat dan fungsi masing-masing dalam menjalankan kehidupan ini.

Sedikit coretan yang penuh tanda tanya kali ini semoga bermanfa’at dan dicari jawabannya. Sebagai akhir coretan berikut ini saya share beberapa langkah jikalau seorang isteri sibuk dengan kerjanya, guna mencegah sejak dini agar anak tidak nakal, berikut ini langkah-langkahnya :
a. Ketika isteri bekerja usahakan agar peran ibu tidak berkurang dengan memantau dan mengadakan komunikasi rutin dengan pengasuh mengenai perkembangan anaknya.
b. Luangkan waktu untuk bersama anak untuk menutupi waktu kebersamaan karena pekerjaan, bisa seminggu 2-3 kali.
c. Bila perlu sekali waktu pada sa’at libur ajak anak dan tunjukkan dimana Ibunya bekerja.
d. Komunikasi intensif dengan anak, apalagi ketika sang anak membutuhkan jalan keluar ketika menghadapi masalah.
e. Dan yang terakhir berdo’a kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, karena Dia-lah penentu segalanya.

Sekian …….


TAGS