Coretan Penaku

Antara Maryjane dan Marijuana

30 Apr 2015 - 05:42 WIB

Maryjane nama yang lagi ramai dibicarakan diberbagai media massa detik-detik ini. Wanita seorang napi narkoba yang telah dijadwalkan dieksekusi mati beberapa puluh jam yang lalu, lolos dari bidikan senapan regu tembak malam itu. Kegigihan pemerintah Negara Maryjane berasal berhasil menunda nyawa Maryjane.

Saya tidak mau berpolemik terlalu jauh mengenai hukuman mati antara hak asasi manusia dan penegakkan hukum guna melindungi generasi bangsa dari perilaku kejahatan narkoba tersebut. Tak dapat dipungkiri hukuman mati memang langkah yang memutus hak hidup seseorang akan tetapi kita juga tidak boleh menutup mata banyak korban mati akibat peredaran narkoba yang sebelumnya dimulai dengan penderitaan sakau, sakit jiwa hingga bunuh diri atas kematian korban narkoba.Yang menarik dari kasus Maryjane ini adalah dua kenyataan yang bisa dijadikan hikmah dan pelajaran bagi kita semua dan pemerintahan negeri ini.

Yang pertama sosok Mary Jane, perempuan kelahiran 10 Januari 1985, berasal dari keluarga miskin di Provinsi Nueva Ecija, Filipina. Ayah dan ibunya bekerja sebagai penjual minuman keliling dan pengumpul barang bekas. Mary menempuh pendidikam hanya sampai kelas 1 SMP Untuk memenuhi kebutuhan keluarga dia bekerja sebagai pembantu rumah tangga dinegara lain. Mary direkrut secara illegal oleh tetangga suaminya, bernama Kristina untuk bekerja di Malaysia sebagai PRT, hingga akhirnya tertangkap polisi sebagai kurir heroin.

Wanita-wanita macam Mary jane ini banyak kita jumpai juga dinegeri ini, tak kurang banyak demi memenuhi kebutuhan hidup rumah tangganya wanita-wanita negeri ini rela menjadi TKW/PRT dinegeri seberang. Mungkin belum pernah terdengar nasib TKW tertangkap seperti Maryjane karena membawa narkoba. Akan tetapi tak jarang/ banyak sekali TKW yang naas direkruit oleh penyalur TKI illegal atau terancam hukuman mati seperti yang dialami Maryjane dengan kasus yang berbeda.

Yang kedua kegigihan pemerintah Philipina dalam upaya menyelamatkan nyawa rakyatnya. Kesungguhan pemerintahan para napi narkoba tersebut terlihat sangat jelas dengan berbagai upaya baik secara halus hingga kasar yang tidak masuk akal demi menyelamatkan rakyatnya dari hukuman mati, walau terkadang mengalami kegagalan. Pemerintah negeri ini disibukkan oleh upaya menghukum mati napi narkoba namun melupakan nasib rakyatnya sendiri yang terancam hukuman mati dinegeri lain. Seperti beberapa hari yang lalu 2 TKI divonis mati tak terdengar geliat pejabat negeri ini berupaya menyelamatkan nyawa rakyatnya secara sungguh-sungguh seperti apa yang dilakukan oleh pemerintahan para napi narkoba tersebut.

Dua pelajaran dari peristiwa Mary Jane diatas bisa dijadikan cermin bagi kita semua demi membangun negeri ini. Fakta memang tak jarang kita lihat dan dengar anak SD sudah biasa nelan Pil Koplo Oplosan yang dijual murah. Perilaku anak-anak semacam ini timbul karena banyak faktor dari mulai ekonomi, pergaulan dan gaya hidup yang didapat dari berbagai media massa baik sinetron ataupun film-film yang ajarkan gaya hedonis atas nama modernisasi.

Demikian juga halnya hukuman mati belum terbukti secara riil mampu mengurangi bentuk kejahatan baik itu curanmor, perampokan, begal ataupun narkoba. Ini dapat dilihat sudah banyak kasus pelaku begal dan curanmor mati dihakimi massa namun tetap saja marak terjadi kejahatan begalisasi yang seolah-olah seperti jamur mati satu tumbuh seribu, tak beda jauh dengan narkoba penjual ada karena ada pembeli. Sebuah kejahatan dapat diatasi bila semua komponen dari mulai lingkup keluarga hingga penegak hukum sama-sama bergerak untuk menanggulanginya.

Sedikit Corentanku semoga jadi renungan.


TAGS   Hukum / Sosial /