Coretan Penaku

Memaknai kecebong dan kodok didunia Politik

5 Jan 2016 - 08:16 WIB

Kodok dan kecebong dua kata yang lagi booming didunia maya terutama sejak cuitan anak presiden mengomentari foto ayahnya di papua beberapa hari ini. Kecebong adalah hewan bakal jadi kodok ketika besar dalam dunia nyata, namun dalam dunia perpolitikan kecebong merupakan sebutan untuk para pengkritis presiden dalam membuat kebijakannya yang lebih dikenal dengan istilah hatter.

Para hatters presiden inilah yang dijuluki sebagai kecebong tersebut. Dalam tulisan ini saya coba memaknai fenomena kecebong dan kodok, beberapa waktu lalu setelah melakukan kunjungannya di Papua presiden RI Jokowi membeli beberapa ratus burung untuk dibebaskan di sekitar istana Bogor, tak ketinggalan pula beliau juga melepas ratusan ekor kodok pada kolam-kolam sekitarnya.

Tujuan pelepasan kodok tersebut adalah untuk menjaga ekosistem kodok agar berkembang biak untuk melahirkan kecebong-kecebong penerus kodok. Presiden dengan demikian ingin memperbanyak kecebong dalam artian lain presiden inginkan banyak kecebong.

Kembali istilah kecebong didunia perpolitikan yaitu para hatters, secara kiasan perilaku presiden menebar kodok tersebut presiden menginginkan banyak para kecebong/hatters untuk mengkritisi semua kebijakannya agar tidak merugikan rakyat, sebab suara sumbang kecebong terkadang adalah bentuk luapan hati rakyat secara umum. Ini dapat dilihat suara-suara kritis para kecebong dalam menilai kebijakan pemerintah sangat mumpuni dan ampuh mencegah pemerintah berbuat salah, sebagai contoh adalah beberapa kebijakan pemerintah yang dibatalkan demi rakyat akibat suara-suara sumbang para kecebong, yaitu :

Ketika pemerintah akan membuat sebuah kebijakan pembelian mobil mewah untuk para pejabat, para kecebong mulai bersuara kritis dan akhirnya kebijakan tersebut dibatalkan.

Ketika presiden akan melantik calon kapolri yang bermasalah para kecebong mulai bersuara yang pada akhirnya pelantikan dibatalkan walau sempat runyam saling serang dua institusi penegak hukum.

Ketika TNI AL ingin membeli helikopter VIP mewah ditengah negeri yang terpuruk dengan uang hutang, para kecebongpun bersuara sumbang mengkritisi rencana tersebut dengan kritis tersebut pemerintah membatalkan pembelian helikopter tersebut.

Baru-baru ini seorang menteri sedang merencanakan pungli dibalik penurunan BBM bersubsidi, para kecebong mengkritisi dengan tajam kebijakan yang memeras rakyat tanpa dasar hukum tersebut, endingnya pungli tersebut ditunda entah sampai kapan.

Langkah-langkah kritis para hatters/kecebong tersebut adalah bentuk perjuangan demi kesejahteraan rakyat dengan cara mengkritisi kebijakan pemerintah yang akan merugikan rakyat. Dari bukti-bukti diatas dapat dikatakan para kecebong/hatters bukanlah rombongan sakit hati atau haus kekuasaan, namun sebuah bentuk kepedulian anak bangsa terhadap nasib bangsanya dengan cara kritis, menyuarakan suara sumbang jika kebijakan pemerintah salah arah.

Sebuah pemerintahan disistem demokrasi akan berjalan sehat apabila ada pihak-pihak penyeimbang/oposisi dalam sebuah negara. Sehingga tidak akan berjalan pemerintahan layaknya sebuah kerajaan mengiyakan semua kebijakan pemerintah walau pada akhirnya kebijakan tersebut merugikan rakyat. Untuk itulah NKRI yang menganut sistem demokrasi membutuhkan banyak kecebong-kecebong untuk membawa suara hati nurani rakyat guna menegor pemerintah.

Sedikit coretan memaknai dua kata kecebong dan kodok didunia perpolitikan, semoga bermanfaat.


TAGS   Opini /