Coretan Penaku

Memupuk Budaya Makan

1 Feb 2016 - 09:42 WIB

Beberapa waktu yang lalu Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani meminta agar rakyat miskin diet dan kurangi makan. Gurauan Puan ini kemudian menjadi polemik. Puan dinilai tidak peka terhadap situasi dan kondisi rakyat miskin. Diet kata-kata yang sulit muncul dikalangan rakyat miskin, sebab bagi mereka rasa lapar mereka alami setiap waktu tanpa harus diet demi melangsingkan tubuh.

Terlepas dari kontroversi ucapan menteri tersebut ada sebuah permasalahan besar yang dihadapi rakyat negeri ini yaitu permasalahan pangan yang belum terpenuhi dinegeri yang tanahnya subur ini sehingga import dilakukan guna memenuhi sebuah kata “beras”. Beras menjadi salah satu makanan utama rakyat Indonesia yang sulit tergantikan hingga menjadi sebuah gengsi dan bentuk status ekonomi tersendiri bila tidak konsumsi beras. Dalam hal konsumsi beraspun ada beberapa tingkatan kualitas dari mulai raskin hingga kualitas bramu.

Kebiasaan makan makanan berbahan pokok beras menjadi seolah baku tanpa bisa dirubah, padahal negeri ini kaya akan potensi sumber daya alamnya. Sedikit menengok kemasa lalu tentang pola makan warga petani di pedesaan, teringat betul kala musim panen tiba para petani menanak nasi putih karena hasil panen berupa beras, saat musim tanam jagung sebgian beras dilumbung mereka konsumsi dengan mencampurkan jagung hasil panen jagung musim itu sehingga disebutlah nasi jagung, begitupula saat musim tanam jenis kacang-kacangan mereka olah beras dengan bahan kacang-kacangan, bahkan ketika padi belum tuai mereka konsumsi makanan berbahan ubi-ubian.

Kebiasaan dan budaya makan semacam itu masih kita jumpai dibeberapa pelosok desa dinegeri ini, ini wujud masyarakat bisa menjadikan beras bukan makanan utama bagi mereka. Indonesia yang kaya akan suku bangsa juga kaya akan berbagai macam budaya, salah satunya budaya atau kebiasaan makan mereka. Dari mulai ujung paling timur kita mengetahui warga Papua terbiasa menjadikan ubi sebagai makanan pokok mereka, kita juga melihat warga Maluku menjadikan sagu sebagai bahan utama makanan pokok mereka, terdengar juga Gaplek, nasi jagung adalah bahan utama makanan pokok dari beberapa suku di Indonesia.

Kebiasaan makan bahan-bahan utama selain beras tersebut mulai terkikis dengan adanya beras, seolah-olah bila tidak makan beras dianggap terbelakang. Padahal kandungan gizi bahan-bahan makanan tak kalah dari beras. Permasalahan kekurangan beras yang sulit teratasi dengan program swasembada beras seiring semakin menyempitnya lahan akibat industrialisasi serta kendala-kendala lainnya, mengakibatkan negeri ini tergantung import untuk memenuhi kebutuhan pangan rakyatnya.

Padahal negeri ini subur dan lebih luas dari negeri-negeri tujuan import beras, sungguh sebuah ironi bener adanya bahwa rakyat negeri ini bagai ayam kelaparan dilumbung padi. Ada langkah-langkah yang salah atas fenomena tersebut yang sama-sama harus dicari jalan keluarnya oleh seluruh anak bangsa.

Memupuk kembali budaya makan setiap suku/daerah adalah salah satu langkah yang dapat mengurangi kelaparan akibat kekurangan bahan pangan. Menjadikan, mengolah dan mengelola bahan makanan selain beras menjadi sederajat dan sama tinggi dengan beras dengan berbagai sarana teknologi yang semakin maju saat ini merupakan jalan keluar negeri ini lepas dari ketergantungan pada beras.

Bukan sekedar menghimbau dengan guyaonan agar rakyat miskin diet namun juga memberikan solusi riil dan contoh bagaimana rakyat agar tidak tergantung pada beras, dengan membudayakan makan makanan selain beras yang melimpah ruah dinegeri ini.


TAGS   Budaya /