Coretan Penaku

Kenapa Harga selalu naik saat Ramadhan ?

3 Jun 2016 - 13:12 WIB

Ada sebuah fenomena menarik dalam perekonomian negeri ini yang mayoritas muslim, setiap jelang Ramdlan harga kebutuhan pokok naik berlipat dibanding hari biasa. Sebuah fenomena yang nyata bertolak belakang dari tujuan utama Ramdalan yaitu untuk mendidik umat hidup sederhana, dengan merasakan lapar dan haus dari pagi hingga siang hari. Yang biasa makan tiga kali sehari berkurang menjadi dua kali sehari yaitu saat sahur dan berbuka puasa.

Kalau menurut logika dengan berkurangnya konsumsi makan yang hanya dua kali sehari, harga kebutuhan pokok turun sebab permintaan akan barang kebutuhan tersebut berkurang, namun faktanya sebaliknya harga kebutuhan pokok malah naik drastis. Tajk dapat dipungkiri walau kebutuhan harganya naik namun memberikan keuntungan tersendiri bagi para pelaku ekonomi khususnya para pedagang, tak heran kalau bulan ramadhan bulan penuh berkah bagi siapaun baik muslim maupun non muslim.

Naiknya harga kebutuhan pokok membuat pemerintah kalang kabut mencari cara agar bahan kebutuhan pokok tersebut harganya stabil dan terjangkau untuk dibeli rakyat, import salah satu cara yang dianggap mumpuni walaupun secara negatif merupakan bentuk usaha yang bertolak belakang dari visi pemerintah dengan tekad swasembada pangannya.

Saya tidak menyoroti upaya import tersebut, namun mencoba mencari jawaban fenomena kenapa setiap tahun jelang Ramdlan dari ane masih ingusan hingga sekarang selalu dikuti harga bahan pokok naik ?

Sebuah pertanyaan yang perlu dicari jawabannya sebab sangat bertolak belakang dari tujuan utama bulan Ramdlan bagi umat muslim. Perilaku berbeda yang telah membudaya turun temurun dari tahun ketahun, setap Ramadlan umat muslim yang menjalankan ibadah puasa cenderung memanjakan diri, kalau hari-hari biasa makan tiga kali sehari anggaplah lauk tempe dan tahu plus sayur asem, minum teh hangat plus singkong rebus dikala ramadlan berubah buka nasi rawon, kolak, es kelapa muda, kue dan buah, yang otomatis menambah biaya serta permintaan akan kebutuhan pokok tersebut bertambah yang berakibat naiknya harga.

Padahal kalau kita jeli bulan ramadlan merupakan training bagi umat muslim untuk merasakan bagaimana simiskin merasakan lapar dan haus dari pagi hingga malam tetap bekerja keras guna menyambung hidupnya, bukan malah dijadikan bulan untuk memanjakan diri karena pagi hingga sore tak terisi makanan dan minuman ketika berbuka balas dendam dengan konsumsi beraneka macam makananan.

Sebuah perilaku yang salah menafsirkan hikmah ramadlan yang perlu dirubah, dan tugas kita semua untuk menyampaikan bahwa bulan ramadlan bukanlah bulan untuk memanjakan diri namun bulan suci penuh keberkahan dengan tetap menjalan aktvitas seperti hari-hari dibulan biasa, makan minum sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan ekonomi masaing-masing tanpa harus memaksakan diri karena telah menjadi sebuah budaya yang keliru.

Makan-makanan enak-enak guna memanjakan diri pada bulan ramadlan bagi yang kurang mampu secara ekonomi berakibat pada perilaku yang dipaksakan, tak heran jelang ramadlan banyak orang berkumpul depan bank untuk cairkan tabungannya, mengadaikan barang miliknya hingga hutang.

Upaya pemerintah import daging dengan harapan harga daging stabil bertolak belakang dengan upaya pengembangan dan pertumbuhan peternak sapi, sebuah tindakan yang rancu. Harusnya pemerintah memberikan solusi riil yang menguntungkan rakyat, anggaplah memberi contoh dan membudayakan untuk mengubah pola makan dengan tidak serta merta tergantung pada daging sapi. Indonesia yang kaya akan lautan tentulah kaya pula dengan ikan-ikan laut yang tak kalah kandungan gizinya dibanding daging sapi. Upaya menteri Susi menjaga kekayaan ikan dari curian nelayang asing agar pendapatan hasil nelayan dalam negeri naik, amat rancu tidak disertai dengan upaya agar rakyat Indonesia menyukai konsumsi ikan.

Ramadlam penuh berkah ni jangan dijadikan sebagai biang naiknya harga kebutuhan pokok, dengan berupaya semaksimal mungkin untuk memahami makna bulan ramadlan yaitu bulan bentuk untuk menjaga hati, ucapan, tindakan, makan, minum yang sederhana tidak memanjakan diri dan berlebihan dalam segala tindakan.

Sedikit coretan amburadul semoga bermanfaat : “Marhaban Ya Ramadllan, selamat menjalankan ibadah puasa semoga Endingnya menjadi manusia yang Fitri…amiin”


TAGS   Budaya / Gaya Hidup /