Coretan Penaku

Ketika Sedekah Salah Sasaran

19 Jun 2016 - 06:32 WIB

Bulan Ramadhan bulan suci penuh berkah dan pahala yang berlipat-lipat bagi umat yang melakukan kebaikan. Pada bulan ini umat islam dianjurkan untuk sedekah berbagi rejeki kepada sesama yang kurang mampu. Ada banyak macam sedekah dari mulai menyediakan takjil, makan sahur hingga uang. Sebuah pemandangan menyejukan ketika melihat umat agama lain yang tidak menjalankan ibadah puasa memberi/menyediakan takjil berbuka secara gratis sebagai perwujudan teloransi yang riil dinegeri ini.

Dengan datangnya bulan ramadhan muncul pula sebuah fenomena sosial yang patut dicermati, dibulan ramadhan ini banyak muncul pengemis diberbagai tempat diantara dekat tempat ibadah untuk mengais segenggam uang mengatasnamakan sedekah. Namun fenomena tersebut menjadi sebuah permasalahan baru ketika mendengar dan mengetahui siapa sejatinya sebagian pengemis tersebut. Dari sebuah kutipan berita sungguh amat mengejutkan dan memprihatinkan kalau mengetahui perihal tentang mereka.

“Setiap bulan puasa ratusan orang dengan menumpang truk datang ke sini mengontrak rumah,\\\” ujar Berra Hanson, warga Kebon Singkong, kepada detik+. Hanson yang memiliki 20 petak kontrakan mengaku kecipratan untung setiap bulan puasa. Sebab seluruh kontrakannya penuh terisi. Padahal bulan biasa paling hanya terisi separuhnya. Para pengontrak itu adalah pengemis yang rutin beroperasi di wilayah Menteng dan Jatinegara. …………………. “Seorang pengemis yang ngontrak di saya bilang, paling apes mereka dalam sehari dapatnya Rp 200 ribu per hari. Tapi umumnya mereka dapat uang sekitar 500 ribu-Rp 600 ribu per hari…… Hanson mengaku pernah melihat rumah-rumah mereka saat menghadiri kondangan warga setempat yang menggelar acara khitanan anaknya di daerah Haur Geulis, Indramayu. Saat datang ikut hajatan di sana ia ditunjuki rumah para pengemis yang ngontrak di Kebon Singkong.

Alangkah terkejutnya Hanson karena ternyata rumah mereka di kampung besar dan rapi. Bahkan saat dia bertamu melihat perabotannya sangat wah. \\\”Kamar mandi saja ada bathtubnya. Malah ada yang punya kolam renang segala,\\\” kata Hanson takjub.

Dari situlah Hanson dan sejumlah warga di Kebon Singkong maklum mengapa dari waktu ke waktu, warga dari Indramayu banyak berdatangan. Mereka ingin mengikuti jejak saudara atau tetangganya yang bisa hidup wah di kampung hanya dengan mengemis. Sumber kutipan : Detik.com

Berita semacam ini sering kita dengar diberbagai media yang menggambarkan kenyataan bahwa pengemis adalah bentuk profesi yang menggiurkan. Mengemis bukan lagi bentuk mengiba karena ketidak mampuan ekonomi akan tetapi sebuah pekerjaan yang dianggap mudah dan mendatangkan banyak keuntungan.

Betul ada sebuah pepatah “Tangan Kanan Memberi Tangan Kiri Sembunyi” sebagai dasar agar seseorang bersedekah ikhlas dan tanpa memandang pemberiannya. Akan tetapi sebuah dilema ketika kita mengetahui pemberian kita salah sasaran, dimana yang benar-benar membutuhkan kita acuhkan secara tidak sengaja. Ketelitian dan kejelian dalam bersedekah untuk siapa ini perlu dikaji ditelaah ketika baru-baru ini mendengar sebuah berita yang amat mengejutkan ! korban penggerebekan warung yang sempat menghebohkan publik ternyata :

Ibu Eni dikenal sebagai orang kaya dan juragan warteg . Nasir, salah satu tokoh masyarakat di Cikepuh, Kecamatan Serang, Kota Serang mengaku mengetahui pasti kehidupan keluarga Ibu Eni atau Saeni. Menurutnya, perempuan yang ramai diberitakan karena barang dagangannya dirampas Satpol PP, bukan dari golongan tak mampu. Ibu Eni dikenal sebagai juragan warteg.

“Warteg yang dibilang itu, dia lagi buka dan makannya orang sini. Orang Cikepuh juga. Tidak benar kalau dia bilang tidak berjualan. Dan dia bukan orang tidak punya, dia punya warteg tiga. Dia orang kaya, dia kontrak itu saja Rp 12 juta,” kata Nasir saat dihubungi, Kamis, sumber berita : Disini

Kalau berita itu benar adanya merupakan bentuk tamparan bagi pemimpin, media, pegiat sosial, dan kita semua untuk bercermin dan bertindak lebih jeli dalam setiap berpeilaku agar sedekah yang kita berikan tidak salah sasaran.

Krisis kepercayaan ini mungkin penyebab utama dari kecenderungan masyarakat kurang percaya pada lembaga sosial yang bertebaran dinegeri ini baik yang dikelola pemerintah, ormas keagamaan, lsm, untuk menyalurkan sebagian rejekinya kepada orang-orang yang membutuhkan. Kasus ibu Saeni yang telah mendapatkan sumbangan uang ratusan juta dari masayarakat tapi kenyataannya dia orang kaya yang tak laik untuk menerima sedekah semoga menjadikan kita untuk intropeksi.


TAGS   Religi / Sosial /