Coretan Penaku

Bijak Menggunakan THR

28 Jun 2016 - 08:26 WIB

THR tiga kata yang amat bermakna dan menggembirakan bagi berbagai kalangan dari mulai pegawai swasta hingga pejabat tinggi. Sebuah berkah dibulan ramadhan mendapat rejeki berupa THR yang berlipat dari gaji biasa. Tak heran kalau banyak yang merasa kecewa dan histeris perjuangan mendapatkan THR tersebut ternyata berakhir perusahaan tidak memberikan THR karena ketidakmampuan perusahaan.

Namun amat disayangkan rejeki yang diharapkan dan diperjuangkan tersebut pada akhirnya dipergunakan untuk hal-hal yang tidak urgent hanya mengikuti budaya yang sejatinya tidak diajarkan pada ajaran agama saat jalankan ramadhan hingga idul fitri. Budaya baju baru, tas baru, mobil baru, motor baru, dll yang membuat penggunaan uang THR tidak bijak demi perayaan hanya beberapa hari saja uang habis bahkan minus.

Seperti yang terkutip dalam sebuah berita betapa maraknya pertokoan jelang Idul Fitri :

Sepuluh hari jelang Hari Raya Idul Fitri, masyarakat di sekitar Jabodetabek memadati Pasar Tanah Abang. Seiring telah cairnya Tunjangan Hari Raya (THR) Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan pegawai swasta, sejak pukul 09.00 WIB pengunjung yang didominasi kaum ibu ramai berdatangan.

Banyak di antara mereka yang sudah membawa tas belanja besar untuk membawa pulang pakaian yang akan dipakai di hari raya. Di tengah keramaian Pasar Tanah Abang Blok A, mereka pun tak peduli untuk tetap mencari pakaian yang diinginkan. sumber :  Detik Finance

Tak masalah merayakan kegembiraan dengan THR tersebut di hari raya, akan tetapi tahun ini perayaan hari raya dikala harga pokok naik drastis dan bersamaan pula dengan dimulainya tahun ajaran baru dimana anak-anak kita mulai masuk sekolah, baik itu menjadi siswa baru smp, sma atau bahkan mahasiswa baru disebuah universitas yang tentu saja membutuhkan biaya yang cukup besar.

Dua moment yang bersamaan tersebut akan menjadi sebuah renungan bagi orangtua dalam mengelola keuangan tersebut. THR sebuah rejeki yang perlu dikelola bijak antara demi untuk perayaan yang hanya beberapa hari saja dan untuk masa depan pendidikan anak-anak.

Bagi kalangan orang kaya memang tidak masalah penggunaan THR tersebut karena masih ada uang berlebih untuk biaya pendidikan anak-anaknya. Namun bagi kalangan menengah kebawah akan menjadi sebuah dilema, jika kurang pandai mengelola keuangan dalam dua moment yang waktunya bersamaan.

Butuh langkah bijak untuk mengelola dan memilah dalam menggunakan rejeki ramadhan yang berupa THR ( Tunjangan Hari Raya ), apakah untuk kepentingan kegembiraan sejenak atau untuk kepentingan masa depan anak-anak melalui pendidikan ? sebuah pilihan yang memang terlihat sulit, akan tetapi kalau benar dalam memaknai ramadhan dan idul fitri tidaklah susah, sebab idul fitir bukan ajang untuk berhura-hura dengan baju mewah, motor baru, makanan serba enak dan lain-lain.

Jika mengerti betul makna dan hikmah idul fitri , maka akan bijak bertindak menggunakan uang THR untuk biaya pendidikan anak-anaknya demi masa depan mereka. Sedikit coretan semoga menggugah hati pembaca.

NB : “ Gunakan Semangat Membeli Baju Baru Untuk SEmangat Biayai Pendidikan Anak-anak “

 


TAGS   Gaya Hidup /