Coretan Penaku

Mudik, kenapa Balik ?

12 Jul 2016 - 10:30 WIB

Saking antusiasnya menyambut lebaran dengan mudik untuk bertemu sanak family dikampung halaman. Kemacetan akibat banyaknya pemudik mengakibatkan kejadian fatal yang tak diduga sebelumnya dan dalam sejarah NKRI baru tahun ini terjadi korban tewas akibat macet bukan akibat kecelakaan.

 macet

Kemacetan parah yang terjadi Brebes, Jawa Tengah ternyata membuat banyak pemudik merasakan kelelahan berat. Peristiwa ini membuat banyak pemudik meninggal dunia. Ada sekitar 12 orang pemudik yang meninggal dunia karena diduga kelelahan akibat macet [sumber] 

Sebuah kejadian yang patut dijadikan cermin dan koreksi pihak terkait dalam mengelola transportasi sebagai bentuk kewajibannya melayani rakyat.

Moment mudik memang sangat berharga karena hanya dalam sekali dalam setahun mereka baru punya kesempatan untuk mengunjungi sanak family. Saat warga mudik suasana kota-kota besar pusat orang mencari nafkah dengan berbagai profesi terlihat lengang, jalananpun jadi sepi, tak terdengar hingar bingar  suara klakson dan bau asap knalpot yang menyengat.

Gambaran kelengangan tersebut mengindikasikan sebagaian besar warga kota adalah para pendatang bukan warga kota setempat. Ada sebuah fenomena menarik yang mungkin layak untuk dijadikan kajian oleh pemerintah dalam menelorkan sebuah kebijakan.

Tak ada salahnya dan tak ada larangan bagi warga daerah untuk datang keota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung dan lain-lain dengan tujuan untuk mencari penghidupan yang lebih baik saat dikampung halamannya. Ketertarikan warga tersebut salah satu penyebabnya adalah kebiasaan para pemudik membawa harta bendanya, mobil, motor, perhiasan, dan lain-lain yang seolah-olah mereka seukses dikota rantau.

Padahal kenyataan sebenarnya tidak seperti itu tak jarang justeru para pendatang yang tak punya bekal skill dan pendidikan malah terjerumus dalam kejahatan, menjadi pelacur, maling, jambret, hingga mentok menjadi gelandangan. Kejadian semacam ini terus berlangsung sejak dulu kala sejak saat terciptanya sebuah lagu berjudul “Siapa suruh datang Jakarta”.

Dan bukan rahasia umum saat balik dari mudik, para pemudik membawa sanak kerabatnya, tetangga, teman yang ingin mencari penghidupan, pekerjaan dikota besar. Ada gula ada semut sebuah ungkapan pepatah yang menggambarkan bahwa kota-kota besar yang ada merupakan gula yang manis dan menjanjikankesejahteraan.

Urbanisasi pada momen balik mudik tidak akan terjadi jikalau sebaran gula-gula manis tersebut merata tidak hanya dikota-kota tertentu saja. Sejak awal sebagai anak bangsa saya sangat tidak setuju dengan Reklamasi sebuah langkah konyol dengan alibi untuk memperluas wilayah DKI yang semakin sempit, sementara faktanya peruntukannya hanya untuk kaum elite semata padahal negeri ini banyak ribuan pulau tak terurus .

Sebuah himbauan dari seorang bupati yang patut diapresiasi, : Bupati Batang Jawa Tengah Yoyok Riyo Sudibyo mengajak warga Batang yang merantau di Jakarta untuk pulang saja ke kampung halaman. Soalnya, bakal ada kucuran modal puluhan triliun ke Batang.

“Aku ngajak sampeyan mulih (saya mengajak Anda pulang)! Bali (Pulang)! Ayo!” kata Yoyok dalam acara buka bersama warganya di Gedung Joeang, Jl Menteng Raya, Jakarta, Minggu [sumber] 

Himbauan yang menganjurkan agar kampung halamannya menjadi maju serta menjadi lahan gula untuk para semut setempat, yang secara tidak langsung mencegah urbanisasi. Himbauan tersebut tidak akan berjalan jika tidak didukung kebijakan pemerintah pusat bagaimana agar para investor mau menginvestasikan modalnya keberbagai daerah bukan hanya dikota besar saja.

Langkah razia warga baru / pendatang yang ada saat balik mudik dengan acuan tujuan dan skill datang ke tujuan tidak akan mumpuni dalam mencegah arus datangnya warga baru tersebut.

Mudik Kenapa Balik ?………………………monggo dicari jawabannya.


TAGS   Umum / Gaya Hidup /