Coretan Penaku

Jangan Jadikan Import sebagai Hobi

19 Jul 2016 - 11:24 WIB

Saking menjanjikannya negeri yang Indonesia sejak dahulu kala menjadi incaran berbagai negara. Teringat sebuah sejarah seorang penjelajah dunia yang terkenal bernama Cristopher Columbus mencari-cari negeri yang yang kaya akan rempah-rempahnya, negeri yang saat ini kita injak, tempat lahir dan hidup kita Indonesia.

Gemah Ripah Loh Jinawi gambaran Indonesia yang kaya akan berbagai sumber daya alam baik hewani maupun nabati, dan sumber kekayaan tambang, budaya dan lain-lain. Negeri agraris dengan lahan subur yang luas dialiri berbagai sungai-sungai disekitarnya. Tinggal manusia yang tinggal didalamnya saja apakah mampu mengelola sumber kekayaan yang dimiliki.

Sebagian penduduk Indonesia mata pencahariannya banyak dibidang, pertanian dan nelayan. Sebuah kabar yang cukup memprihatinkan : “Sekarang generasi muda di daerah kami sudah ‘alergi’ ke sawah. Buat mereka lebih baik menjadi tukang batu atau TKI daripada tukang tanam,”……… kurangnya minat generasi muda ke sawah ini terutama disebabkan oleh sangat rendahnya penghasilan dari bertani. [sumber]

Beberapa penyebab kurang minat generasi muda terjun jadi petani adalah karena menjadi petani kurang menjanjikan, akibat harga hasil panen yang tak menentu yang cenderung merugi. Salah satu sebab meruginya adalah kebijakan import yang dilakukan pemerintah.

Bolehlah kebijakan import dengan tujuan untuk menekan harga kebutuhan pokok yang kalau jernih fenomena tersebut hanya setahun sekali, akan timbul sebuah pertanyaan apakah salah petani menikmati keuntungan setahun sekali dari hasil jerih payahnya ?

Komitmen “SWASEMBADA” seolah-olah hanya lipstik belaka tanpa tindakan riil yang meningkatkan hasil pertanian dengan memberdayakannya secara maksimal. Dan amat memprihatinkan kebijakan import seolah-olah menjadi, kebiasaan, tradisi, hobby yang dilakukan tanpa merasa beban akibat kebijakan tersebut.

Tradisi import ini bukan isapan jempol semata namun karena sebuah kenyataan seperti kebijakan import sebagai berikut :

RI Impor Garam dari Australia, China, Hingga Jerman [selengkapnya]

Daftar Impor RI di Oktober, dari Kentang Hingga Kelapa [selengkapnya]

RI Impor Singkong dan Kentang, dari Vietnam Hingga Kanada [selengkapnya]

Dalam Sebulan, RI Impor Kedelai dan Gandum Rp 3 Triliun [selengkapnya]

RI Impor Singkong Hingga Garam [selengkapnya]

Bulog Impor Jeroan: 1.000 Ton Hati dan 1.000 Ton Jantung [selengkapnya]

Dari Presiden, Menteri hingga Bulog seolah-olah lebih melindungi para pengimport daripada memberdayakan para petani negeri ini. Betapa tidak produk-produk yang diimport bukan produk langka yang sulit dibuat, namun sebuah produk yang mudah dihasilkan dinegeri ini.

Bahkan disaat musim giling tebu untuk proses pembuatan gula, koq sempat-sempatnya import gula ravinasi. Selama ini tidak ada ketransparanan alasan kongkrit kenapa import, siapa pengusaha yang ditunjuk sebagai pengimport, kenapa hanya untungkan pengimport, lalu petani dikemanakan ?

Mungkin benar adanya pepatah “Bagai Ayam Melongo Dilumbung Padi” karena padi yang ada dilumbung tak berniali akibat import tersebut.

Sedikit coretan ungkapan untuk menyuarakan geliat hati petani negeri ini yang dianak tirikan…..


TAGS   Ekonomi / Petani / Peternak / Swasembada / Import /