Coretan Penaku

Difabel Juga Manusia Punya Hati Punya Rasa

22 Jul 2016 - 08:25 WIB

Sering kita sengaja atau tidak menyepelekan, mendeskriditkan penderita difabel baik secara sengaja atau tidak. Saat naik kendaraan umum terkadang kita tega membiarkan mereka tidak dapat tempat duduk karena kita lelah dan capek sehingga enggan memberikan tempat duduk kita.

Saat berkendara dengan kendaraan pribadi, kadang kita acuh tak ketika melihat penderita difabel kesulitan, menyeberang dijalanan yang ramai. Tak jarang juga pihak keluarga sendiri menyingkirkan, menyembunyikan anggota keluarganya yeng menderita difabel karena dianggap sebagai aib dan membuat malu nama baik keluarga mereka, padahal keterbatasan mereka bukan atas kemauan mereka, saya yakin mereka juga ingin sempurna tanpa kekurangan akan tetapi takdir berkehendak lain entah apa penyebabnya sehingga mereka harus menanggung beban sebagai difabel.

Beban hidup yang bukan atas kemauannya terkadang membuat mereka kurang pede dan cenderung minder sehingga masa depannya semakin suram terlebih jikalau tidak ada dukungan keluarga, masyarakat dan pemerintah.

Ada kutipan berita menarik dari detik.com beberapa detik yang lalu, tentang cerita penderita difabel dari bu Risma saat membuka pameran karya seni mereka yang membuat hati terenyuh membaca beritanya,

Suatu hari Risma pernah mengajak anak-anak itu jalan-jalan ke Surabaya Waterpark. Dulu ada satu anak bernama Sultan. “Sewaktu di sana ada tetangganya Sultan. Ternyata Sultan itu dari Denpasar dan orang tuanya akan menjemput. Waktu Sultan dijemput orang tuanya, lha kok semua anak-anak ini pada nangis. Rupanya mereka juga kepingin dijemput orang tuanya,” kenang Risma. [selengkapnya]

Sebuah luapan hati bahwa mereka ingin setara dengan kakak adik dirumahnya masing-masing, butuh kasih sayang orangtua sama seperti saudara-saudaranya. Perlakuan yang tak adil juga dirasakan penderita difabel yang mampu dan ingin melakukan perjalanan menggunakan kendaraan yang cepat dan menghemat waktu, masih tergiang ditelinga kita kisah seorang difabel yang ditolak naik pesawat terbang dengan berbagai alibi,

Cerita bermula ketika Dwi Ariyani hendak terbang dengan menggunakan pesawat Etihad Airways dengan rute penerbangan Jakarta-Jenewa. Saat itu ia sempat meminta kursi roda dengan petugas untuk masuk ke dalam pesawat. Setelah meminta, petugas sempat melakukan cek in dan memperbolehkan dirinya untuk ikut terbang sesuai dengan tujuan.

Namun malang, sampai di dalam pesawat, beberapa menit kemudian Dwi Ariyani dilarang ikut dalam pesawat karena dirinya diketahui pergi sendirian sehingga tidak ada yang akan membantunya atau menemaninya bila ada sesuatu atau kecelakaan saat berada dalam perjalanan.[sumber]

walaupun peraturan telah memuat tentang hak-hak hidup mereka saat dalam perjalanan hingga mendapat pekerjaan, namun perturan tinggal peraturan yang hanya jadi pajangan semata jikalau tiada nurani untuk menggugah hati mereka pada sesama manusia yang mempunyai hak hidup yang sama.Patut disyukuri sejak beberapa tahun lalu pemerintah mencanangkan pendidikan inklusi mengakomodasi semua anak tanpa memandang kondisi fisik, intelektual, sosial emosional, linguistik atau kondisi lainnya. Ini harus mencakup anak-anak penyandang cacat, berbakat.

Karena sulitnya mereka mendapatkan pekerjaan formal disertai pula tak ada keterampilan yang mereka miliki tak jarang mereka menjadi gelandangan dan pengemis untuk bertahan hidup. Sebuah kenyataan yang sering kita jumpai pada mereka dalam kehidupan sehari-hari yang menguji hati kita sebesar apa rasa kepedulian kita pada mereka.

 

NB : “Mulianya Manusia Di Hadapan Tuhan Bukan Karena Tubuh dan Raut Wajahnya, Namun Karena Hati dan Perilakunya


TAGS   Sosial / Difabel /