Coretan Penaku

Menulis Obat Depresi

25 Jul 2016 - 10:49 WIB

Sebentar lagi musim haji tiba, banyak calon haji menanti-menanti untuk pergi ke Masjidil Haram guna melaksanakan salah satu rukun Islam. Dalam kegiatan ibadah haji ada salah satu kewajiban haji yaitu melontar jumroh. Aktifitas tersebut simbol perlawanan terhadap godaan syetan/iblis yang diilhami dari kisah Nabi Ibrahim saat digoda setan bertubi-tubi ketika akan jalankan perintah Tuhan-Nya. Setan-setan tersebut dilempari dengan batu-batu kecil agar pergi dan tidak menggodanya lagi.

Melontar Jumroh Sebuah aktifitas yang perlu dikaji secara maknawi, benarkah setan masih ada di tempat melontar jumroh, padahal setiap tahun telah dilempari jutaan jamaah haji ? pertanyaan ini perlu kajian secara logika, dari jenis setan yang tercantum dalam kitab suci bahwa ada golongan setan jin dan golongan setan manusia.

Sebagai orang awam salahkah kalau lemparan batu-batu kecil yang dilakukan oleh Ibrahim yang saat ini diimplementasi dalam melontar jumroh adalah bentuk pelampiasan amarahnya pada sesuatu akibat dalam pikirannya berkecamuk antara melaksanakan perintah Tuhan dan tidak melakukan perintah-Nya. Kondisi seperti itu kalau jaman sekarang disebut galau.

Fikiran galau bisa menjadi stress hingga pada puncaknya depresi. Orang-orang yang ngerti kesehatan psikologi menganjurkan agar tidak memendam rasa tersebut, dianjurkan dengan berbagai cara pelampiasan seperti pergi ketempat sepi, gunung, bukit, pantai kemudian berteriak keras-keras melampiaskan apa yang dipendamnya. Atau pula dengan meluapkan amarahnya dengan melempar piring, sebagaimana yang telah diapresisai beberapa tempat memberikan fasilitas pelampiasan dengan melempar piring.

Jikalau rasa tersebut dipendam dan dibiarkan membeku akan berdampak gangguan kejiwaan yang fatal. Dilain kasus saat ini marak perilaku penggunaan narkoba, kalau mau dicermati para konsumsi narkoba pingin jiwanya tenang atau boleh dikatakan penggunaan narkoba bentuk pelampiasan rasa stress, depresi, namun mereka tidak berfikir jauh dampak negatifnya yang justeru menambah parah penderitaannya.

Beberapa waktu lalu dan mungkin ita telah menonton sebuah film perjalanan hidup seorang tokoh dinegeri ini yang patut diteladani yaitu  film “Habibie dan Ainun” film yang diilhami dari sebuah buku karangan tokoh itu sendiri. Siapa sangka buku berjudul “Habibie dan Ainun” yang kabarnya ditulis dalam waktu 2,5 bulan adalah bentuk upaya beliau menyembuhkan depresi setelah ditinggal isterinya menghadap Illahi.

Cerita Habibie Menangis Mencari Ainun Hingga Menulis Buku ‘Habibie dan Ainun’Setelah meninggalnya Hasri Ainun Besari, jiwa BJ Habibie sangat terguncang dan berpotensi menyebabkan depresi yang berkepanjangan.Rasa cinta Habibie yang sangat mendalam membuat dirinya tidak mudah menerima kehilangan Ainun.Habibie menceritakan, bahwa dirinya pernah suatu waktu di malam hari menangis mencari Ainun.

Kata dia, jika kesedihan yang berlarut-larut itu tidak bisa diatasi, tentu dapat menganggu organ-organ lain di tubu‎h dirinya.Habibie pun melakukan konsultasi ‎dengan dokternya untuk menyembuhkan penyakit yang dideritanya itu setelah Ainun meninggal.Dikatakannya, dokter memberikan empat pilihan kepadanya untuk dapat kembali normal seperti sebelumnya.

“Opsi pertama adalah saya dirawat di rumah sakit jiwa, kedua tetap di rumah tetapi dengan treat (perawatan) dokter, ketiga adalah curhat, dan keempat menulis. Saya pilih menulis,” tuturnya di Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Sabtu. Habibie mengaku, ia diberi tenggat waktu selama tiga bulan untuk menyembuhkan penyakit yang ada dalam dirinya tersebut.

Lalu, ia pun segera menulis buku yang diberi judul Habibie dan Ainun.

“S‎aya mulai menulis kalau sedang depresi. Saya pun menulis selama 2,5 bulan dan jadilah buku Habibie dan Ainun,” ujarnya. [ sumber]

Buku Habibie an Ainun, sebuah karya tulis ntuk menyembuhkan keguncangan hati yang bisa berakibat depresi yang dialaminya.

Kalau RA Kartini menjadikan menulis sebagai bentuk perjuangannya dalam menaikkan derajat wanita yang terkenal dengan “Habis Gelap terbitlah Terang” , banyak pula para sastrawan dengan berbagai karya puisinya juga bentuk karya tulis ungkapan gundah gulana.

Ada banyak jenis dan cara menulis diera digital sekarang saat ini, ngeblog juga bentuk menulis yang bisa kita jadikan pengobat stress saat jenuh bertumpuknya pekerjaan. Yang terpenting apa yang kita tulis walaupun bentuk rasa kekecewaan namun seyogyanya juga memberi manfaat bagi pembacanya.


TAGS   Kesehatan / Gaya Hidup /