Coretan Penaku

Reshuffle Bukan Untuk Uji Coba

29 Jul 2016 - 10:26 WIB

Ada sebuah kutipan berita menarik beberapa waktu yang dari sebuah media online, tentang aktivitas Jokowi dalam blusukannya pada salah satu  pondok pesantren pada moment peringatan hari besar islam,

Pertanyaan berikutnya. “Menteri kabinet kerja ada 34, sebutkan 3 saja,” tanya Jokowi. Kali ini giliran santri yang di tengah diminta maju.

“Bismillahirrahmanirrahim..” kata santri sebelum menjawab.

“Nomor satu.. Ahok!” sebutnya lantang. Sontak tamu undang tertawa, termasuk Presiden Jokowi.

“Coba ulangi, sebutkan 3 menteri kabinet kerja,” tanya Jokowi lagi.

“Nomor satu, Megawati..!” sahut si anak dengan suara lantang. Disusul tawa Jokowi dan undangan lagi.

“Terus?” tanya Jokowi.

“Nomor satu Megawati. Nomor dua Ahok. Nomor tiga Prabowo!” si santri mantap dengan jawabanya, tapi Jokowi tertawa.

“Ha..ha.. Udah, ambil sepedanya..’ kata Jokowi tak ambil pusing. [sumber]

Sebuah dialog tanya jawab yang memang terkesan lucu, akan tetapi ada sebuah kenyataan yang cukup memprihatinkan bahwa anak-anak sekolahtidak mengetahui siapa para menteri kabinet kerja saat ini. Ada banyak sebab memang ketidak tahuan mereka, salah satunya adalah menteri-menteri tersbut telah dirotasi atapun telah diganti. Akan tetapi penggantian tersebut tidak disertai dengan  informasi kabinet terbaru hasil resuffle, kalau kita google nama-nama menteri kabinet kerja maka yang muncul adalah daftar nama kabinet awal dibentuk bukan kabinet hasil resuffle.

Itu salah satu dampak resuffle yang mungkin kita anggap sepele, ada dampak lain yang juga tidak bisa dianggap sepele seperti ketakutan para kepala sekolah menetapkan suatu kebijakan yang berdasar menteri terdahulu tidak sama dengan kebijakan menteri yang baru. Sehingga mereka akan cenderung menunggu instruksi dari kementerian yang baru. Begitupula dengan para menteri yang baru akan memulai dari nol lagi terlebih apabila jabatan yang diembannya tidak sama dengan keahlian dan pengetahuan yang dimilikinya.

Dalam hal jabatan jauh-jauh hari ajaran agama telah memberikan warning agar “Jangan Memberikan Sebuah Jabatan Kepada Bukan Ahli Dibidangnya”. Reshuffle atau perombakan kabinet tidak akan terjadi jikalau pemerintah mengamini dan melaksanakan warning tersebut.

Ini terlihat sejak awala pembentukan kabinet kerja tidak memperhitungkan faktor utama yang menentukan kinerja seorang menteri. Kabinet kerja dari awal dibentuk dengan tujuan merangkul, mengapresisai kinerja partai koalisinya setelah sukses mengusung untuk menjadi RI.1, bahasa orang kulon “Kabinet Bagi-bagai Kekuasaan”.

Sah-sah saja dan lumrah dalam perpolitikan koalisi berhak dapatkan imbalan atas keringat perjuangan mereka saat pemilihan presiden, akan tetapi ada yang salah dalam pembagian jabatan tersebut. Partai politik anggota koalisi sodorkan nama kemudian baru presiden memberikan jabatan pada nama tersebut. Kesalahan langkah tersbut berakibat jabatan menteri tidak dijabat oleh orang yang ahli dibidangnya namun hanya sekedar apresiasi perjuangan saja.

Harusnya presiden telebih dulu memberikan jatah kementerian pada para parpol koalisi “ini ada kementerian buat kamu, mana kader partai anda yang mumpuni dibidang kementerian tersebut ?”

Mungkin begitu harusnya sehingga walaupun kabinet dibentuk karena apresiasi partai politik anggota koalisi tanpa mengindahkan bahwa kader yang menduduki jabatan menteri tersebut memang ahli dibidangnya.

Resufffle dan rotasi beberapa detik yang lalu entah dengan alasan apapun, terlihat secara gamblang bahwa resuffle tersebut hanya sebuah langkah uji coba seseorang dalam menjabat sebagai menteri. Bila tidak cocok dan kinerja kurang baik diganti dan dirotasi entah sampai kapan yang tanpa disadari justeru akan memperlambat program-program yang dicanangkan pemerintah sejak awal terpilih.


TAGS   Opini / Politik /