Coretan Penaku

Gloria Bukan Arcandra

16 Aug 2016 - 06:54 WIB

Gloria Bukan Arcandra, ini ungkapan yang saya coretkan jelang peringatan HUT Kemerdekaan RI ke 71 tahun. Ada perbedaan mendasar antara Gloria dengan Arcandra, Gloria berkewarganegaraan Perancis bukan atas niatan kemaunnya sendiri, sedang Arcanda yang diduga berkewarganegaraan ganda Indonesia dan USA atas kemauannya sendiri.

Letak perbedaan niatan untuk memiliki paspor kewarganegaraan asing terlihat jelas. Gloria gadis muda usia 16 tahun tak menyadari bahwa dirinya bekewarganegaraan Perancis.

16 tahun besar dan belajar disekolah Indonesia membuat dirinya begitu Cinta dengan NKRI, terpilihnya dia sebagai wakil sekolahnya untuk menjadi calon paskibraka bukannlah hal yang mudah, perlu seleksi ketat dari mulai tentang pemahaman Pancasila yang belum tentu dihafal oleh para petinggi dan politikus negeri ini, wawasan nusantara dan lain-lain.

Menjadi anggota paskibakra niatan mulia sebagai bentuk rasa nasionalisme anak bangsa yang patut diapresiasi dan dipupuk dengan mengindahkan status kewarganegaraannya karena status orangtuanya. Bukan rahasia umum peliknya status hukum perkawinan antar dua negara, Gloria demi masa depan dan ketaatannya pada orangtua status kewarganegaraannya mengikuti orangtuanya, namun niatan hatinya ingin sebagai warga negara Indonesia ini terbukti semangatnya dia agar terpilih menjadi anggota paskibraka mengalahkan kawan sejawatnya disekolahnya.

Toh paskibraka hanyalah sebuah moment 1 tahun sekali dalam rangka periangatan HUT kemerdekaan RI, tidak ada perbuatan yang dikawatirkan merugikan negara dalam paskibraka tersebut. Justeru kita mustinya bangga ada remaja warga negara asing mencintai bendera negara merah putih.

Berbeda dengan Arcandra sebagai salah satu menteri dalam kabinet Kerja, walaupun dirinya terpanggil untuk memberikan sumbangsih ilmunya utuk membangun negeri ini, akan tetapi kedudukannya sebagai menteri yang dapat membentukan kebijakan signifikan tentulah perlu dan harus cermat untuk menguji seberapa besar rasa nasionalismenya. Dwi kewarganegaraannya akan membuat polemik atas jabatannya, publik akan bertanya-tanya dia bekerja untuk siapa ?

Sebuah fenomena menarik yang terjadi pada diri Gloria dan Arcandra sebagai wujud pertanyaan seberapa besar rasa nasionalisme mereka pada negeri dimana mereka lahir dan dibesarkan. Walaupun demikian ada sebuah perilaku elit yang patut disayangkan dalam menanggapi kasus Gloria dan Arcandra, status kewarga negaraan Gloria begitu cepat terungkap dan segera dibuat tindakan, sementara kasus Arcandra terkesan ditutupi walaupun akhirnya dibuat keputusan tegas akibat santer dan maraknya status kewaraganegaraan Arcandra dari berbagai media massa.

Kasus Gloria dan Arcandra semoga menjadi cambuk bagi pemerintah untuk bertindak lebih cemat, seiring dengan program Tax Amnesty upaya pemerintah menarik dana milik pengusaha yang disimpan diluar negeri. Sejatinya program Tax Amnesti adalah bentuk ujian rasa nasionlisme para pengusaha tersebut sejauh mana dia peduli pada ekonomi negeri ini dengan menarik hartanya diluar negeri untuk membantu pertumbuhan ekonomi dalam negeri.

Akhirnya semoga saja pemerintah konsekwen bukan hanya mempermasalahkan kewarganegaraan Gloria, namun perlu diusut status kewarganegaraan para pengusaha yang bertebaran dinegeri ini.

Suwun……


TAGS   Politik / Nasionalisme /