Coretan Penaku

Bukan #AirMataBuaya

14 Dec 2016 - 00:42 WIB

#AirMataBuaya taggar yang lagi naik populer naik daun saat Sifulan menangis disidang pada kasus penistaan agama. Taggar itu muncul karena beberapa kalangan menganggap tangisan tersebut hanya sandiwara untuk mencari simpati dan empati pada dirinya dalam mendongkrak kembali suaranya pada pilgub . Tuduhan #AirMataBuaya tersebut ada benarnya juga ada salahnya karena kita semua tidak tahu isi hati dari yang menangis itu sendiri.

Saya tidak mau berpolemik soal tangisan dipersidangan tersebut, yang menarik ada guyonan ala warung kopi saat menonton live persidangan tersebut mengomentari tuduhan #AirMataBuaya, “ Itu bukan #AirMataBuaya, sebab Sifulan laki-laki bukan ibu-ibu “…” Bukan #AirMataBuaya, Sifulan manusia bukan hewan “…..

Komentar lucu ala warung kopi tersebut menggugah hati saya untuk mencari jenis-jenis airmata melalui Google. Dari beberapa jenis airmata tangisan saya ambil lima jenis tangisan inti yaitu, Tangisan Kebahagiaan, Tangisan Cinta dan Rindu, Tangisan Kesedihan, Tangisan Penyesalan, Tangisan Kepalsuan.

Tangisan kebahagiaan, yaitu tangisan karena merasa bahagia karena mendapatkan sesuatu yang yang diharapkan, rasa bahagianya tanpa terasa hingga mengeluarkan airmata. Seperti bahagianya pengemar sepakbola atas suksesnya tim PSSI masuk final piala AFF.

Tangisan Cinta dan Rindu, tangisan betapa rindunya pada seseorang atau sesuatu dan mengharapkan dari yang dirindukannya, mungkin contohnya adalah tangisan Doa Ustadz Arifin Ilham ketika moment doa bersama 212.

Tangisan kesedihan, airmata bercucuran karena sedih kehilangan sesuatu yang ada pada dirinya, seperti hilangnya harta benda dan nyawa saat bencana gempa di Nangroe Aceh beberapa waktu yang lalu.

Tangisan penyesalan, menangis karena menyesal atas perbuatan dirinya yang merugikan orang lain dan dirinya sendiri dengan harapan tidak akan mengulangi lagi.

Tangisan kepalsuan atau munafik, yaitu dimana matanya berlinang sementara hatinya keras     membatu, dia menampakkan kekhusyuan tetapi hatinya merupakan hati         yang paling keras.

Tak saya temukan tangisan buaya ataupun #AirMataBuaya sebab saya belum pernah melihat seperti apa Buaya menangis..? hehehe….

Bukan maksud saya menggiring atau menjustivikasi tangisan Sifulan termasuk tangisan apa, mari kita tengok kutipan kronologis tangisan Sifulan dipersidangan sebagai berikut :

Gubernur nonaktif Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menangis tersedu-sedu di depan hakim. Dalam nota pembelaannya, tersangka kasus dugaan penistaan agama ini mengingat orang tua angkatnya yang muslim.

“Saya sangat sedih saya dituduh menista agama Islam. Karena tuduhan itu sama saja dengan mengatakan saya menista orang tua angkat dan saudara-saudara angkat saya sendiri yang sangat saya sayangi dan sangat sayang kepada saya,” kata Ahok di persidangan di gedung eks Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jl Gajah Mada, Selasa

selengkapnya )

Para napi yang divonis hukuman matipun juga menangis dipersidangan, Sifulanah dengan kasus Kopi Sianidapun juga menangis, entah tangisan mereka karena apa, termasuk tangisan yang mana hanya Tuhan yang tahu.

Sama halnya dengan tangisan Sifulan dipersidangan, kita semua tidak bisa menuduh tangisan tersebut bermaksud untuk apa sebab yang tahu niatan tangisan hanya Sifulan dan Tuhan.

Sebagai anak bangsa saya berharap semoga hukum negeri ini adil lepas dari intervensi siapapun, penguasa, pengusaha, politikus, tekanan massa atupun intervensi keibaan atas sebuah tangisan.

Mari menangis dan berdoa dalam khalbu semoga negeri ini bebas dari berbagai macam duri-duri kehidupan, agar Ibu Pertiwi Tidak Menangis dan Bersedih Hati.


TAGS   Penista Agama / sidang / Pilgub DKI /