Coretan Penaku

Kehilangan Tongkat

3 Feb 2016 - 13:03 WIB

Munculnya berbagai polah perilaku warga negara Indonesia yang menyimpang amatlah memprihatinkan, perilaku tersebut muncul karena sesuatu sebab. Perilaku korup kalangan pejabat tinggi adalah akibat pola hidup yang melampaui batas, artis menjajakan diri juga akibat kebiasaan hidup hedon dan bermewah-mewahan yang tak sepadan dengan income mereka sehingga rela menjual tubuh dan kehormatannya.

Tak beda jauh ketika seseorang bergabung dan menjadi boomer organisasi teroris faktor utama mereka adalah permasalahan kebutuhan hidup, demi keluarganya mereka rela mengorbankan diri tanpa memperhitungkan akibat perbuatannya justeru banyak membuat susah banyak orang. Begitu pula alasan seseorang bergabung dengan ormas yang diluar dan menyalahi aturan ketatanegaraan tujuan mereka adalah untuk mencari kemakmuran.

Perilaku-perilaku macam ini terus bermunculan tak terbendung silih berganti ibarat jamur dimusim hujan, KPK sudah dibentuk banyak koruptor dibui namun korupsi tidak berkurang malah sebaliknya bertambah. Begitupula dengan teroris sudah terbentuk densus 88 dan hukumpun tegas pada pelaku, namun tak mampu menghentikan perilaku teror tersebut. Beberapa waktu yang lalu ada kabar puluhan pondok pesantren diduga sebagai penyebab, penyebar ajaran kekerasan. Langkah tersebut memang tegas akan tetapi jadi sebuah pertanyaan apakah produktif apakah mampu ?.

Timbul guyonan ditengah masyarakat kalau teroris dicari sumber dimana mereka belajar, kenapa koruptor, artis melacur juga dicari dimana mereka dulu belajar ?. Pertanyaan guyoanan tersebut adalah satu bukti kongkrit bahwa negeri ini sedang “Kehilangan Tongkat”.

Penegak hukum yang harusnya menjadi “Tongkat Pemberantasan Korupsi” menjadi patah akibat penegakan hukum demi kepentingan, ikut terlibat dan tebang pilih.

Ulama yang seyogyanya jadi “Tongkat Pencegahan Teroris” tak bergema lagi akibat antara ucapan dan perbuatan ulama tidak konsisten, ini dapat dilihat berbagai polah dan tingkah laku oknum ulama tersebut dari korupsi hingga kejahatan moral. Perilaku-perilaku tersebutlah yang membuat tausiyah, wejangan hingga fatwa tak punya taji untuk meredam umat.

Sejatinya tidak perlu keluarkan anggaran besar untuk mencegah perilaku korup, pelacuran dan teroris jikalau rakyat ini memiliki tongkat emas yang putih bersih, kokoh dan istiqomah antara ucapan dan perbuatan, sebab para pelaku korupsi, teroris dan pelacuran sama seperti oarang buta yang membutuhkan tongkat, mereka bukan buta matanya namun buta hatinya. Revolusi Mental yang digaungkan tidak akan mampu mengubah perilaku rakyat negeri ini jika tidak disertai dengan “Revolusi Hati”.

Ada sebuah pepatah : Pemimpin Kencing Berdiri Rakyat Kencing Diatas Genting, Polisi Kencing Berlari Korupsi Kencing Naik Mercy.

Salam Damai……


TAGS   Sosial /