Coretan Penaku

Mencari Rejeki Juga Ibadah

13 Jun 2016 - 09:47 WIB

Mengutip terjemah ayat tentang puasa “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” dalam ayat tersebut ada obyek yang diwajibkan untuk berpuasa yaitu “Orang-orang yang beriman” mungkin ada sebuah pertanyaan kenapa tidak ditujukan pada “Orang-orang Muslim” ?. orang-orang beriman adalah tingkatan lebih tinggi dari muslim.

Orang-orang beriman Mampu menjaga diri dari perbuatan maksiat dan mungkar, sebab dalam hatinya ada keimanan dan keyakinan bahwa Allah SWT. itu ada dan Maha Melihat dan Mendengar atas segala perbuatan hamba-Nya. Memiliki sikap kreatif dan inovatif dalam kehidupan sehari-harinya, sehingga tidak banyak waktu dan kesempatan yang terbuang sia-sia tanpa ada manfaatnya. Hidupnya selalu ingin menjadi yang terdepan dalam belajar dan berprestasi, sebagai wujud penghayatan dari sifat Qidam (terdahulu atau maju). Memiliki sikap kemandirian yang kuat, sehingga hidupnya tidak mau merepotkan orang lain, atau menggantungkan segala harapan kepada pihak lain, apalagi mengharap belas kasihan dari orang lain. Hidupnya selalu penuh semangat untuk belajar dan bekerja, tekun dan rajin beramal dan beribadah sebagai wujud penghayatan dari sifat Qiyamuhu Binafsihi (berdiri sendiri)

Karena ciri dan sifat orang-orang beriman tersebut diwajibkan untuk berpuasa agar menjadi manusia yang bertaqwa. Puasa yang dilakukannya bentuk keikhlasan hati tanpa ada tedeng aling-aling atau takut akan berbagai macam godaan atas berbuat yang melanggar ibadah puasa, makan, minum, menjaga hawa nafsu disiang hari hingga berbuka. Orang beriman dalam berpuasa tak akan goyah oleh godaan makanan yang lezat dan minuman segar disiang hari, karena mampu kendalikan hawa nafsunya.

Dilema pelarangan berdagang disiang hari bagi para penjual makanan amatlah ironi dan bertolak belakang dari hikmah dibalik ibadah puasa itu sendiri. Orang berpuasa yang menahan haus dan lapar tidak serta merta dimanjakan dengan menghalangi pandangan matanya dari menu makanan yang disajikan para pemilik warung dengan cara mengganggu orang lain mencari rezeki untuk menafkahi keluarganya agar bertahan hidup.

Tanpa sadar lupa bahwa pedagang makanan berjualan untuk mencari rezeki adalah juga sedang menjalankan ibadah dari Tuhan dalam kewajibannya menafkahi keluarganya. Disisi lain tidak semua muslim menjalankan ibadah puasa, baik karena belum memenuhi syarat kewajiban puasa, ada rukhsoh atau halangan yang tidak memungkinkan dirinya berpuasa, terlalu tua, sedang hamil menyusui, sakit, perjalanan jauh dan lain-lain.

Amatlah rancu puasa yang diwajibkan atas orang-orang beriman pelaksanaannya harus diikuti dengan kebijakan yang seolah-olah menjaga kesucian bulan Ramadhan akan tetapi faktanya justeru merusak kesucian bulan ramadhan tersebut dengan berbuat menghalangi orang lain menjalankan ibadah mencari rejeki.

Kebijakan seorang pemimpin harus melihat semua sisi dan bukan hanya dari satu sisi saja, bagi pegawai swasta, pejabat pemerintah, guru, PNS, dokter, polisi, satpol PP mereka mempunyai penghasilan tetap setiap bulannya. Sementara bagi para pedagang makanan mereka menyambung hidup dari hasil jualannya. Pelarangan berdagang bagi penjual makanan adalah salah satu bentuk penghambat yang secara tidak sengaja mengurangi pendapatan mereka. Padahal salah satu tujuan puasa adalah untuk menggugah kedermawanan seorang mukmin untuk berbagi pada sesama yang kurang mampu.

Sedikit coretanpenaku bentuk ungkapan atas kejadian penutupan paksa dan perampasan barang dagangan penjual makanan hanya demi menjalankan peraturan yang katanya menjaga kesucian bulan Ramadhan namun pada akhirnya menimbulkan masalah baru serta bertolak belakang dari hikmah ibadah puasa itu sendiri.


TAGS   Religi / Tausiyah / Opini /