Coretan Penaku

Kapan Bantu Emak ?

9 Aug 2016 - 10:55 WIB

Kapan bantu emak, mungkin kalimat itu yang muncul pada anak-anak sekolah dasar dan sekolah menengah pertama dari orangtua yang kurang mampu atau juga anak-anak sekolah yang tinggal dipedesaan dari tepi pantai hingga lereng  gunung jika sekolah full day diberlakukan pada mereka.

sumber gambar :www.tribunews.com

Gebrakan menteri pendidikan nasional hasil resuffle kabinet beberapa yang lalu mengusulkan tentang sistem pendidikan sekolah full day bagi pelajar sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP). Seperti kutipan berita beberapa waktu yang lalu,

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy menggagas program sekolah sehari penuh. Gagasan ini sudah disampaikan Muhadjir ke Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK).

“Saya sudah konsultasi ke Beliau (Wapres JK) dan Beliau menyarankan ada semacam pilot project dulu untuk ngetes pasar dulu,” ujar Muhadjir di Kantor Wapres, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Senin (8/8/2016).

Penerapan program belajar di sekolah sehari penuh, menurut Muhadjir, sudah dipraktikan sekolah swasta. Karena itu Kemendikbud akan melakukan kajian sebelum program belajar tersebut diterapkan.

“Jadi kalau FDS (full day school) itu waktu sehari penuh itu kan nanti bisa menerjemahkan lebih lanjut dari program nawacita dari Beliau (Jokowi-JK) yang dimana pendidikan dasar SD dan SMP itu pendidikan karakter lebih banyak dibanding knowledge basenya dan banyak waktu memberikan kesempatan guru mendidik anaknya menanamkan pada siswanya karakter yang ada dalam nawacita itu,” sambung dia (sumber kutipan)

Sebuah gebrakan yang patut diapresisai disaat era globalisasi dimana generasi bangsa musti tangguh dari pengaruh buadaya-budaya negatif dari luar disaat mereka saat luang dirumah tidak ada orangtua sebagai ujung tombak pendidikan mereka, karena masing-masing disibukkan dengan pekerjaannya.

Ibu Bapak berangkat pagi pulang sore memang seolah sudah menyebar dibeberapa lingkunga masyarakat terutama masyarakat perkotaan. Kalau menteri yang lalu membudayakan antar anak kesekolah, ide full day suatu bentuk budaya jemput anak sekolah. Berangkat pagi bareng orangtua pergi kerja pulang sekolah dijemput orangtua yang pulang kerja juga.

Akan tetapi akan timbul sebuah masalah jikalau sistem sekolah full day diberlakukan pada lingkungan pedesaan atau juga bagi kalangan anak didik yang orangtuanya kurang mampu. Selain fasilitas pendidikan disekolah-sekolah desa yang kurang memadai, begitupula guru-guru yang kurang mumpuni. Terlebih lagi sudah menjadi sebuah kebiasaan masyarakat pedesaan anak pulang sekolah membantu orangtua dari hal ringan, momong adik, membantu masak ibu, bersih rumah, hingga membantu orangtua mencari penghasilan untuk biaya hidup.

Diperkotaan banyak kita jumpai pulang sekolah anak-anak memulung sampah, mengamen, berdagang kue minuman dipinggir jalan. Tengoklah kisah gadis ini “

“Saya anak ketiga dari lima bersaudara. Dua kakak saya sudah meninggal saat masih kecil. Orangtua saya buruh tani, tapi bapak sudah tidak bisa beraktivitas jadi saya bantu ibu,” kata Fitriyanah, Jumat (31/7/2015).

Ia membantu ibunya bekerja apapun demi menghidupi keluarga dan sekolah adik-adiknya yang masih kecil. Bahkan saking inginnya membantu perekonomian keluarga, Fitriyanah bermaksud berhenti sekolah setelah lulus SMP beberapa bulan lalu.

“Adik-adik masih kecil. Saya bantu-bantu ibu, mengupas bawang merah, mencuci, saya rela melakukan apapun demi adik-adik saya,” tandas Fitriyanah. (sumber cerita)

Dari sekelumit cerita tersebut tidak semua anak dan orangtua, hingga pihak sekolah siap menerima sistem pendidikan sekolah Full Day, dengan satu pertanyaan yang muncul dari mereka Kapan Bantu Emak ?.

Karena sisitem ini hanya cocok untuk kalangan perkotaan dan orangtua yang mampu sementara dinegeri yang tercinta ini masih banyak orang miskin.


TAGS   Pendidikan /