Coretan Penaku

Pedasnya Harga Cabe Yg tak Dinikmati Petani

26 Jan 2017 - 10:17 WIB

Beberapa waktu lalu publik disibukkan dengan mencuatnya harga cabe rawit yang semakin pedas hingga mengalahkan harga jual kebutuhan pokok lainnya. Fenomena naiknya harga hasil pertanian senantiasa ada setaip tahunnya dikarenakan permintaan tak seimbang dengan persediaan barang dikarenakan gagal panen atau tidak ada petani yang menanamnya. Namun jarang sekali kita menengok jerih payah petani dalam menghasilkan produk tersebut yang terkadang membuat mereka enggan untuk menanam karena saat panen harga jatuh terjerembab hingga petani tak dapat keuntungan sama sekali.

Dimasa lalu Didesa pelosok tertinggal bertani sebuah kegiatan untuk menyambung hidup, hasil pertanian yang mereka peroleh digunakan untuk makan, terbiasa mereka menyimpannya dilumbung-lumbung yang mereka miliki, sedikit demi sedikit mereka masak sambil menunggu hasil panen berikutnya. Tak ada pikiran untuk menjual hasil pertanian mereka sebab belum ada niatan untuk kebutuhan lain seperti pendidikan anak-anak mereka.

Berbeda dengan era sekarang dengan semakin majunya teknologi informasi maka timbul kesadaran tentang pentingnya pendidikan bagi anak-anak mereka. Yang tentu saja menambah beban biaya kebutuhan hidup. Hasil pertanian yang mereka dapatkan tak mampu menutupi besarnya biaya kebutuhan tersebut. Banyak persoalan yang dihadapi petani dari mulai mahalnya harga pupuk, obat-obatan anti hama tapi tak sepadan dengan harga jual panen mereka.

Terkadang pula mereka terbelenggu pada tengkulak, dikarenakan meminjam modal pada dengan tengkulak dengan perjanjian hasil panen dibeli tengkulak dengan harga ditentuan tengkulak sebagai bentuk pembayaran hutang.

Berbagai upaya dilakukan bagaimana agar petani sejahtera seperti menghadirkan teknologi yang berupa alat bajak, alat tanam, hingga alat pemanenan dan penggilingan. Akan tetapi kehadirang teknologi tersebut berdampak pada hilangnya mata pencaharian sebagain besar penduduk desa. Sebab dari satu desa yang benar-benar petani pemilik lahan rata-rata hanya 40% sedangkan lainnya sekedar buruh tani.

Kalau proses penanaman padi atau tandur (bahasa jawa) dilakukan secara manual, bisa menampung tenaga buruh tani hingga 10 orang pada satu lahan pertanian milik satu orang petani. Begitupula pada saat panen buruh tani yang tandur itu pula yang kelak ikut memanennya dengan hitungan pembagian hasil panen sesuai kesepakatan bersama.

Dengan hadirnya teknologi maka secara otomatis 10 orang buruh tani tersebut kehilangan mata pencaharian, sebab hanya cukup dengan satu operator mampu menggantikan 10 oarng buruh tani. Namun amat disayangkan selain menyebabkan buruh tani kehilangan matapencahariannya, teknologi tersebut belum mampu membuat kesejahteraan petani kian bertambah. Ada banyak faktor lain yang masih jadi kendala bagi petani, terutama harga hasil panen mereka.

Pedasnya harga cabe rawit yang melambung tinggi nyatanya tak dirasakan oleh sebagian besar petani, sebuah dilema yang patut dicari jalan keluar bukan malah dihindari dengan menyepelekan nasib petani dengan kebijakan import semata.


TAGS   Cabe / Petani / Teknologi /