Coretan Penaku

Kenapa Ahok di Jakarta ?

27 Jan 2017 - 09:48 WIB

Akhir-akhir ini situasi perpolitikan panas hampir meluas hingga kebeberapa daerah, akibat kurang pandainya sifulan menjaga mulutnya sehingga berakibat dirinya jadi terdakwa kasus penistaan agama. Yang menarik panasnya situasi moment jelang pilkada menyebar kepelosok negeri. Publik dan media terfokus pada panasnya perseteruan sifulan cagub petahana dengan lawan-lawan politiknya.

Hebatnya juga tokoh-tokoh politik senior, dari mantan presiden konsentrasi penuh pada ajang politik di Jakarta. Bahkan aparat penegak hukum didaerahpun ikut terbawa arus politik di Jakarta. Sehingga publik tidak bisa membedakan mana kasus hukum penistaan agama dan mana ajang serang moment pilkada Jakarta. Kasus penistaan agama yang sejatinya sebuah kasus seorang warga negara melawan hukum dibawa-bawa keranah politik sehingga kasus tersebut dibuat seolah-olah bermuatan politik. Akibatnya pihak-pihak yang berkepentingan ikut-ikut memainkan kasus hukum untuk menyerang lawan karena calon yang dibanggakan dan didukungnya terkena kasus penistaan agama.

Kenetralan aparat penegak hukum dalam ajang pilkada Jakarta juga masih dipertanyakan publik, ini melihat perilaku mereka yang mencari-cari kesalahan salah satu cagub demi menyenangkan seseorang, semoga tidak benar adanya kabar angin ini.

Kenapa yang panas hanya Jakarta ?

Sebuah pertanyaan yang butuh jawaban , iseng-iseng cari informasi ternyata moment pilkada tahun 2017 yang dilakukan serempak tidak hanya di Jakarta saja. Data dari KPU bahwa Ada 153 Pasangan Calon di 101 Daerah yang Daftar Pilkada Serentak 2017. Ada pilkada di 101 daerah di Indonesia, namun berita yang santer marak duel cagub petahana Jakarta vs lawan-lawannya. Sementara publik tidak mengetahui kualitas dan latar belakang para cagub didaerah lain.

Apakah daerah lain diluar Jakarta kurang menarik ? kalau kita jeli justeru daerah diluar Jakarta atau daerah diluar Jawa justeru sumber daya alamnya masih melimpah ruah, hanya saja kurangnya SDM untuk mengelolanya, tak heran kalau saat ini lagi santer tambang-tambang liar yang dikelola WNA karena SDM yang merasa mampu berbondong-bondong ke Jakarta. Amat disayangkan putera yang merasa mampu justeru berangkat ke Jakarta untuk memenuhi hasratnya sementara kemampuannya tidak digunakan untuk memajukan kampung halamannya. Patut diapresiasi, Bu Risma , Ridwan Kamil, Abdullah Aswar Anas, yang tetap bertahan bekerja memajukan kampung halamannya agar setara dengan Jakarta.

Kenapa Ahok di Jakarta ?

Sebuah pertanyaan mengingat daerah dimana dia lahir dan dibesarkan masih tertinggal jauh dibanding daerah lain. Bukan maksud penulis memojokkan dengan pertanyaan ini, namun berharap anak bangsa yang merasa mampu hendaknya membuktikan kemampuannya untuk membangun kampung halamannya.

Tak salah kalau ada anggapan banyak tokoh konsentrasi di Jakarta karena demi “ Kepentingan “ entah itu sebagai batu loncat untuk jabatan yang lebih tinggi, untuk kepentingan bisnis dan lain-lain sebab di Jakartalah sebuah kebijakan signifikan diterbitkan. Selain berbagai kantor lembaga pemerintah, kantor industri, pusat perbelanjaan berpusat di Jakarta sebagai salah satu faktor daya tarik mereka ibarat pepatah “ Ada Gula Di Jakarta Tanpa disuruh semut Berdatangan “.

Ada pula yang mengatakan Jakarta adalah miniatur Indonesia, ada berbagai macam budaya, suku, agama, berkumpul di Jakarta perlambang ke Bhinnekaan NKRI.

Kalaupun benar demikian dari perilaku warganya, pejabatnya, hingga pemimpinnya harusnya benar-benar mencerminkan jatidiri bangsa Indonesia. Sebagaimana sebuah ungkapan tentang pemimpin yang sesuai jatidiri bangsa Indonesia yaitu “ Ing Ngarso Sun Tuladha, Ing madya bangun Karsa, Tut wuri Handayani “ seorang pemimpin hendaknya mengerti unggah ungguh dan tata krama sebagai perwujudan sila-sila Pancasila.


TAGS   Pilkada DKI / Penistaan agama / Ahok /