Coretan Penaku

Kepedulian Semusim

31 Jan 2017 - 08:33 WIB

Saat ini musim pemilihan kepala daerah atau lebih dikenal dengan Pilkada diberbagai daerah di Indonesia. Bermunculanlah para calon pemimpin diberbagai daerah tersebut dengan berbagai jargon politiknya masing-masing hingga ada yang menganggap pemilihan dirinya sebagai pelayan rakyat walaupun mengingkari dirinya diplih untuk jadi leader didaerahnya masing-masing.

Perolehan suara kunci utama kesuksesan mereka untuk meraih kursi kepemimpinan mereka idamkan. Tak pelak berbagai cara untuk memperoleh simpati calon pemilih dari mulai menutupi rapat aib dirinya diringi membuka lebar-lebar aib lawan-lawannya yang adu dalam ajang kampanye.

Uangpun berhamburan dikeluarkan hingga miliaran rupiah untuk promosikan diri mereka dengan mudahnya tidak seperti hari-hari biasa yang cenderung sulit untuk keluarkan uang bagi sesama yang kurang mampu dari segi ekonomi.

Dibayarlah lembaga survey, media televisi, media cetak hingga media online untuk mengampanyekan dirinya. Tak ketinggalan berbagai moment penting dan hari-hari peringatan digunakan pula dengan mengisi bumbu-bumbu bebrau kampanye.

Yang tak terbiasa bersimbah debu dan lumpur turun mendekati berbagai macam masyarakat, hingga ke gang-gang kecil. Orang miskin, para difabel, gepeng, tak luput dari target mereka untuk raih simpati. Tengoklah beberapa waktu lalu calon rela mengunjungi penderita polio digang sempit, rela menyempatkan waktu untuk berbincang-bincang dengan kerendahan hati , sebuah pemandangan yang jarang dilakukannya.

Musim pilkada memang menguntungkan bagi rakyat yang selama ini kurang mendapat perhatian pemimpinnya. Namun apakah nasib mereka akan berubah setelah moment semusim ini ? tak jarang mereka yang telah memberikan satu suara yang berharga bagi keterpilihannya lambat-laun dilupakan.

Sungguh amat disayangkan mereka yang kurang beruntung secara ekonomi nasibnya tak berubah sesaui harapan pada pemimpin yang dipilihnya. Nasib kebahagiaan mereka hanya sekedar saat mendengar janji-janji manis kampanye semata.

Tak jarang kita dengar baru menjabat kepala daerah sudah tercokok pihak aparat penegak hukum akibat korupsi, kolusi, dan nepotisme. Ini membuktikan bahwa kepedulian mereka pada rakyat hanya semusim saja.

Mereka tersenyum, dermawan, peduli ketika butuh suara rakyat saja, setelah itu melupakannya.

Lupa bahwa dirinya dipilih bukan untuk memperkaya diri, demi kelompoknya semata dengan mengindahkan hingga mengusir serta menggusur kelompok diluar kelompoknya, berpihak pada pemilik materi dan mengacuhkan yang lain.

Padahal mereka dipilih untuk mensejahterakan semua tanpa memandang suku, agama dan ras.

 


TAGS   Pilkada / Difabel / Peduli / Semusim /