Coretan Penaku

Perlukah Periksa Jenis Kelamin ?

4 Feb 2017 - 10:54 WIB

Beberapa hari yang lalu ada sebuah berita yang mengejutkan, sebagaimana yang dikutip dari media massa sebagai berikut :

“Kasus pasangan sejenis yang membuang bayinya di semak-semak masih menjadi perbincangan warga Lingkungan III, kelurahan Muara Sentosa, Kecamatan Sei Tualang Raso, Tanjungbalai, Sumut.

Pasalnya, kejadian pada Kamis (2/2) tersebut, cukup mengejutkan warga karena bayi malang itu lahir dari rahim wanita yang menyaru sebagai laki-laki saat pernikahan.

Farel, 25, yang diketahui warga sebagai pria menikahi Sal, 21, tiba-tiba hamil dan membuang bayinya di semak, belakang rumah warga.

Hal inipun langsung membuat geger warga, dan keluarga Sal. Sejatinya sebagai seorang istri Sal, mengaku sangat menyayangi pasangannya Farel yang menjadi suaminya.

Menurut Sal, selama ini Farel juga sangat menyayanginya. Namun, setelah menikah, Farel pamit ke Malaysia ingin menjadi TKI guna memenuhi kebutuhan hidup mereka.

“Setelah nikah suamiku pamit samaku ke Malaysia jadi TKI. Enggak tahulah aku apa yang dikerjakannya di Malaysia. Setelah beberapa bulan bekerja di Malaysia, dia kirim surat mau pulang ke Tanjungbalai. Katanya dia sakit makanya mau pulang. Eh ternyata setelah sampai di Tanjungbalai, aku baru tahu ternyata suamiku hamil,” kata Sal seperti dilansir Metro Asahan (Jawa Pos Group)

pastilah banyak orang bertanya-tanya bagaimana proses pernikahan sejenis ini terjadi tanpa diketahui termasuk isterinya ?

Dalam proses pernikahan tentulah banyak persyaratan-persyaratan adiministrasi yang harus dipenuhi calon mempelai, dari mulai surat yang dikeluarkan pihak RT, modin, kelurahan hingga kepolisian. Selain itu juga ada syarat adanya wali nikah dari kedua mempelai, begitu rumitnya persyaratan tersebut kog malah kebobolan.

Ini membuktikan ada indikasi yang perilaku yang tidak tepat dari beberapa pihak, baik itu keluarga/wali mempelai pria atau pihak-pihak penerbit KTP atau kartu tanda pengenal dengan jenis kelamin yang berbeda dengan wujud aslinya wanita ngakunya laki-laki.

Kalau tidak salah ada juga persyaratan pemeriksaan kesehatan dari pihak rumah sakit, dokter, puskesmas yang menerbitkan surat keterangan sehat sbagai salah satu syarat administarsi nikah. Lho kenapa pemeriksa kesehatan tidak tahu kalau yang diperiksa sebagai calon suami adalah seorang wanita ? dari struktur kulit saja bisa membedakan mana wanita mana laki-laki.

Peristiwa ini menjadi cambuk bagi pihak departemen agama yang membawahi KUA dan pengadilan agama yang berwenang menjalankan mengesahkan pernikahan warga negara. Agar peristiwa tersebut tidak terulang, mungkinkah dibuat aturan pemeriksaan jenis kelamin pada kedua calon mempelai ?


TAGS   Nikah sejenis /