Coretan Penaku

Miskin Batin

6 Mar 2017 - 09:15 WIB

Saya ini memang miskin. Tapi batin saya tidak miskin, kalimat yang terucap dari mbah Sadiyo seorang pencari rongsokan dengan penghasilan yang tak menentu rela menyisihkan hasil pekerjaannya untuk menambal jalanan aspal yang berlubang demi keselamatan ratusan hingga ribuan pengendara yang melewati jalan tersebut.

Meski penghasilannya tidak seberapa, Sadiyo selalu menyisihkan sebagian uang untuk membeli semen. Semen tersebut dia gunakan untuk menambal jalan yang berlubang. Di bawah terik sinar matahari, tampak Mabah Sadiyo sedang menurunkan dua karung semen dari becaknya, di jalan Desa Gondang-Tunjungan. Berita aksi Mbah Sadiyo dengan ungkapan “batin saya tidak miskin” seolah menjadi cambuk bagi kita semua.

Jalan-jalan berlubang banyak kita jumpai dan lewati, terlebih disaat musim penghujan, sering kita menggerutu kesal dan marah ketika tidak sengaja melewati lubang tersebut yang membuat berkendara kita terganggu, tak jarang pula akibat jalan berlubang tersebut terjadi kecelakaan yang membawa korban jiwa.

Dari sepeda pancal hingga motor harley, dari mobil buntut hingga mobil mercy, bus, truk milik pedagang kaki lima hingga truk-truk besar milik pengusaha sukses sering melewati jalan berlubang tersebut. Dari pengamen hingga menteripun terkadang juga melihat jalan-jalan berlubang tersebut, namun amat disayangkan tidak ada rasa kepedulian sebagaimana apa yang dilakukan Mbah Sadiyo, benarkah kita sedang “Miskin Batin” ?.

Pejabat dan pemerintah setempat yang punya wewenang atas lubang-lubang jalan tersebut tidak segera menutupnya dengan alasan klasik, belum ada anggaran, belum dianggarkan, belum ada tender dan lain-lain bla..bla…

Mereka tak melihat Mbah Sadiyo yang penghasilannya tak seberapa demi menyambung hidupnya dengan mencari rongsokan, rela menganggarkan dari sebagian rejekinya untuk membeli semen yang digunakan menambal jalan berlubang tersebut demi kepentingan sesama tanpa memperhitungkan kepentingan sendiri.

Sebuah perilaku dari seorang Mbah Sadiyo gambaran orang yang tidak miskin batin, cukup memprihatinkan tauladan semacam ini muncul dari rakyat kecil, disaat para pemimpin negeri ini lebih mengutamakan kepentingan pribadi dengan menggusur rakyat demi kepentingan pengembang. Miskin Batin para pemimpin semacam itu akan senantiasa membuat kehidupan timpang.

Semoga dengan tauladan Mbah Sadiyo mbah sadiyo yang bertebaran dinegeri ini akan membuka batin kita agar tidak “Miskin Batin”

 


TAGS   Kepedulian / Miskin / Batin /