Coretan Penaku

Membuka Dialog Hati

24 Mar 2017 - 07:41 WIB

Beberapa hari yang lalu terdengar berita miris meninggalnya ibu Patmi karena jantung, petani yang berjuang menolak pembangunan pabrik semen yang bisa mengancam masa depan matapencaharian mereka sebagai petani demi menyambung hidup dan membesarkan anak-anaknya.

Kejadian penolakan pembangunan industri bukan hanya terjadi pada satu tempat saja namun ada diberbagai daerah di Indonesia dengan alasan sama masa depan mereka ketika industri atau program pembangunan lain mengancam mata pencaharian mereka.

Mereka kawatir tak dapat memanen padi lagi saat industri tersebut berdiri karena dampak negatif yang berupa limbah dan polusi serta berkurangnya lahan pertanian. Lahan pertanian yang mereka rawat sejak kecil dengan menanami berbagai macam tanaman dari mulai padi, jagung, palawija merupakan kebutuhan pokok yang dinikmati seluruh anak bangsa.

Ketika industri didirikan dengan memberikan ganti rugi uang dengan jumlah tertentu, benar petani mendapatkan uang yang cukup memadai akan tetapi sejak itu pula mereka kehilangan mata pencaharian sebagai petani untuk selama-selamanya. Banyak kasus saat petani kehilangan lahan karena industri justeru nasibnya terlunta-lunta disela-sela industri yang berdiri dilahan sawah yang dulu mereka garap.

Uang ganti rugi yang mereka dapat sedikit demi sedikit habis untuk dimakan, tak ada perkembangan dari uang tersebut, beda saat mereka bertani. Pembangunan industri tak dapat dipungkiri demi meningkatkan ekonomi negara akan tetapi para petani tersebut juga membutuhkan peningkatan ekonomi juga.

Pengorbanan nyawa ibu Patmi demi perjuangannya tidak bisa dianggap angin lalu atau hanya suara rakyat kecil yang patut disepelekan, justeru perjuangan yang patut untuk diapresiasi, diajak dilaog secara terbuka tentang rencana pembangunan tersebut secara transparan plus minusnya bagi masyarakat sekitar. Dan yang terpenting pembangunan industri tersebut bukan demi memperkaya orang tertentu dengan korbankan masyarakat sekitar.

Sebagai anak bangsa saya prihatin, ketika perjuangan ibu Patmi dan kawan-kawan ditanggapi dengan saling melempar tanggung jawab. Tanpa sadar menganggap ibu Patmi hanya rakyat kecil yang juga tanpa sadar pula bila tanpa ada rakyat kecil tak ada seorang pemimpin disebuah negeri.

Perjuangan mereka bukan tontonan, ataupun duri pencitraan yang disepelekan namun mereka butuh perhatian, butuh uluran tangan untuk dialog hati mengatasi persoalan yang mereka perjuangkan.


TAGS   Demo / Petani /