Coretan Penaku

Gagalnya “Hujan Sembako” wujud Revolusi Mental

26 Apr 2017 - 06:41 WIB

“Revolusi Mental” merupakan jargon yang diusung presiden terpilih Joko Widodo sejak masa kampanye Pemilu Presiden 2014. Namun, tak banyak penjelasan konkret muncul atas frasa itu. “Dalam kehidupan sehari-hari, praktek revolusi mental adalah menjadi manusia yang berintegritas, mau bekerja keras, dan punya semangat gotong royong.”

“Revolusi Mental adalah suatu gerakan untuk menggembleng manusia Indonesia agar menjadi manusia baru, yang berhati putih bersih dari perilaku korupsi suap dalam meraih sebuah keinginan, berkemauan baja, berjiwa api yang menyala-nyala.”

gambar : CNN Indonesia

Gerakan revolusi mental terbukti berdampak positif terhadap perilaku masyarakat dalam moment politik. Politik Sembako atau yang dikenal dimedia dengan sebutan “Hujan Sembako” pada proses pemilihan gubernur DKI yang lalu mengalami kegagalan.

Sebuah fenomena yang menggembirakan bagi kemajuan demokrasi dinegeri ini, ternyata rakyat terutama warga DKI sudah melek demokasi dan melek hukum sehingga cara-cara yang menyimpang dari nilai-nilai Pancasila semacam “Hujan Sembako” mengalami kegagalan.

Rakyat mulai mengerti dan menilai mana-mana calon pemimpin yang orientasi untuk pengabdian dan mana calon memimpin yang orientasinya demi kekuasaan untuk kepentingan bisnis donatur pencalonannya. Hiruk pikuk panasnya pilgub

DKI yang jadi sorotan media internasional hingga muncul isu caos atau bahkan kerusuhan nasional tak terbukti. Pilgub berjalan damai aman dan demokratis walaupun ditengah guyuran hujan baik itu hujan dan banjir dan hujan sembako.

Gagalnya “Hujan Sembako” adalah wujud revolusi mental yang digaungkan presiden Jokowi Widodo dalam pemerintahannya. Rakyat mulai berupaya merevolusikan mentalnya demi kemajuan dan kemakmuran negara dari arus bawah. Akan tetapi amat disayangkan perilaku money politik berbentuk politik sembako justeru dilakukan elite politik negeri ini untuk meraih kekuasaan.

Elite politik yang harusnya menjadi contoh tauladan revolusi mental justeru memberi contoh yang sebaliknya. Perilaku korupsi, suap, KKN yang masih saja dilakukan dan dijumpai pada elite politik hingga saat ini memberi gambaran bahwa target utama Revolusi Mental adalah mereka para elite politik dan aparatur pemerintahan dari daerah hingga pusat. Karena jika revolusi mental dilakukan rakyat tanpa disertai merevolusi mental elite pejabat negeri ini maka akan timpang.

Pesan dari artikel ini : Lakukan Revolusi Mental dari diri sendiri, orang sekitar, lingkungan terdekat intansi/partai politik terdekat, selanjutnya menyeluruh pada seluruh warga negara.


TAGS   Money Politik / Revolusi mental / Hujan / Sembako /