Coretan Penaku

Sedekah Recehan

6 Jun 2017 - 09:57 WIB

Pagi-pagi aku iseng-iseng buka dompetku, Oiiit alhamdulillah masih ada uangnya cukup untuk kebutuhan hari ini dan masih tersisa beberapa untuk diberikan pada orang yang membutuhkan. Isi dompetku kebetulan rutin recehan semua dari puluhan ribu hingga lima ratusan rupiah, maklum hasil mengais rejeki dapatnya seperti itu sebab Aku bukan seorang konglomerat yang biasa keluarkan uang melalui ATM dengan sekali gesek uang lembaran ratusan ribu keluar dengan sendirinya. Karena isi dompetku uang recehan semua jangan salahkan kalau aku bersedekah dengan uang recehan pula.

Aku tidak perlu repot dan antri untuk menukarkan uangku kejasa penuaran uang recehan ataupun bank-bank yang menyediakan penukaran uang recehan. Fenomena ramainya orang menukarkan uangnya pada moment ramadhan dengan tujuan untuk memberikan sebagaian rejeki mereka atau menyedekahkan uang mereka pada orang lain yang membutuhkan, dan juga untuk memberi uang lebaran pada sanak family dikampung halaman saat mudik.

Uang sedekah yang mereka berikan tentulah sangat bermanfaat bagi fakir miskin disaat itu begitu pula sanak saudara terutama anak-anak akan merasa bahagia atas pemberian uang recehan tersebut sehingga silaturrahiim terjalin secara tidak sengaja.

Sedikit tergiang dalam benak fikiranku apakah dengan uang recehan tersebut fakir miskin dapat merubah nasibnya sehingga diramadhan tahun depan tidak kita jumpai lagi orang yang sama menadahkan tangannya menanti sedekah uang recehan tersebut. Kalau kita amati atau juga mau mendata identitas para pengemis tersebut kebanyakan orang yang sama seperti ramadhan tahun yang lalu.

Bolehkah aku katakan sedekah uang recehan tersebut hanya sekedar cukup untuk makan sehari dihari itu saja. Padahal kalau kita sebagai umat muslim sadar dan jeli sedekah dibulan ramadhan dan amalan-amalan lainnya adalah bentuk Training untuk diterapkan lebih baik, lebih banyak dihari-hari pasca bulan ramadhan.

Disisi lain uang recehan yang diberikan pada anak-anak sanak saudara kita kecenderungan digunakan untuk kegiatan yang lebih banyak tidak bermanfaat, untuk bermain hingga membeli petasan yang justeru terkadang merugikan anak tersebut. Padahal bulan ramadhan tahun ini 1438 H bertepatan dengan akan dimulainya tahun ajaran baru, dimana orangtua musti bekerja keras untuk menyediakan alat-alat sekolah bagi anak-anaknya.

Lagi-lagi aku membayangkan seandainya aku konglomerat aku berikan hadiah berupa alat tulis, buku pelajaran, seragam untuk kebutuhan anak-anak saat sekolah pasca Ramadhan. Mungkin hanya sebuah mimpi dari seorang pemegang dompet yang isinya uang recehan semua. Mimpi dari sebuah kenyataan tentang fenomena penukaran uang berat ke-recehan yang kalau dikumpulkan mencapai jutaan hingga ratusan juta.

Tak terpikirkan oleh kita kah ? tidak perlu kita tukarkan uang berat tersebut untuk sedekah recehan pada fakir miskin, namun berikan uang berat untuk fakir miskin agar mendapat kail sehingga diramadhan tahun depan tidak kita jumpai orang yang sama dari ramadhan ke ramadhan menadahkan tangannya menanti belas kasihan dermawan menaruh uang recehan.

Haruskah kita biasakan sedekah uang recehan ?…….mari bercermin ….


TAGS   sedekah / ramadhan / uang recehan /