Coretan Penaku

Belajar dari “Ndeso”

7 Jul 2017 - 13:23 WIB

“Ndeso “ satu kata yang saat ini lagi populer karena diucapkan oleh seorang anak presiden, Katrok, Ndeso tanpa kita sadari juga pernah kita dengar dalam acara yang dibintangnya Tukul Arwana disebuah televisi swasta. Ndeso yang mempunyai arti ketinggalan jaman, katrok, udik , kampungan yang identik dengan penduduk desa. Penduduk desa yang kurang maju kebudayaannya, kurang maju pendidikannya serta teknologinya. Ndeso juga diartikan ketinggalan jaman, karena mereka masih memegang teguh adat istiadat dan budaya dalam kehidupan sehari-hari, secara tidak sadar pula orang ndeso masih murni tidak terpengaruh dari budaya asing yang masuk akibat semakin majunya teknologi informasi.

Apakah satu kata “Ndeso” merupakan bentuk ujaran kebencian atau sekedar guyonan, hal tersebut bisa dinilai dari kalimat yang mengikutinya serta gelagat temperamen pengucap disertai mimik kebencian atau gurauan. Saya tidak mau membahas polemik permasalahan tersebut, dalam tulisan kali ini saya coba mengangkat kata “Ndeso” yang identik dari kehidupan desa.

Tanpa kita sadari atau sengaja kita buta mata banyak perilaku kehidupan “ndeso” yang patut dijadikan teladan dan contoh membangun negeri ini terlebih negeri ini sedang dilanda krisis sosial, krisis budaya, dan krisis toleransi. Yang kesemuanya masih kita jumpai dalam perilaku kehidupan “ndeso” kepedulian sosial, gotong royong dan toleransi masih terjaga dibanding dengan kehidupan warga kota yang katanya sudah maju tidak ndeso lagi.

Gotong royong, bentuk kerjasama warga pada moment yang berhubungan dengan warga , seperti membangun rumah, membersihkan saluran irigasi, membangun jembatan dan lain-lain masih banyak kita jumpai dikehidupan Ndeso.

Kepedulian sosial , warga saling berbagi makanan setelah masak pagi hari walau sekedar antar tetangga yang dilakukan ibu-ibu, atau juga memberi tetangga yang tidak mampu, masih banyak kita jumpai pula dikehidupan ndeso pula.

Hal biasa pula warga menepikan jemuran tetangga ketika musim hujan agar tidak kehujanan, menjaga anak-anak ketika sitetangga tidak ada dirumahnya. Salah satu bentuk toleransi masih banyak pula kita jumpai juga dikehidupan ndeso.

Toh pada moment hari raya idul fitri beberapa hari yang lalu banyak orang-orang kota pada “Mudik” ya ujung-ujungnya ke “Ndeso” juga untuk bersilaturahmi dengan sanak familynya, berkeliling ketetangga saling minta maaf yang biasanya disambut dengan sukaria dengan berbagai macam sajian kue dan makanan. Itu juga gambaran masih terjaganya kehidupan berkeluarga, bertetangga, bermasyarakat yang tidak kita jumpai dikehidupan kota yang cenderung nafsi-nafsi super cuek.

Jadi jangan remehkan Ndeso, sebab disanalah masih kita jumpai perilaku kehidupan bermasyarakat yang bisa dijadikan contoh untuk menjaga persatuan dan kebhineka tunggal ikaan NKRI tercinta.


TAGS   Ndeso / Desa / Kampungan /