Coretan Penaku

Kapan Aku Bahagia ?

24 Jul 2017 - 11:18 WIB

Setiap tanggal 23 juli diperingati sebagai hari anak nasional untuk mengingatkan kembali  bahwa ada anak-anak dinegeri ini yang kelak merupakan pewaris negeri ini. Peringatan tersebut bukan hanya sekedar hura-hura dengan menghabiskan banyak biaya untuk memggembirakan anak-anak dihari itu saja. Moment peringatan hari anak nasional ini justeru untuk membuka mata hati kita semua anak bangsa bagaimana agar mereka bahagia dinegeri tercinta yang telah merdeka ini, sehingga mereka turut menikmati kemerdekaan.

Sebab masih banyak anak-anak dinegeri ini yang belum bebas merdeka apalagi senyum bahagia. Tak jarang kita dengar berita anak-anak jadi korban kekerasan orangtua, jadi korban pembunuhan, korban pedofilia, korban konflik, korban bullying, korban teknologi, korban politik hingga korban pengaruh media sosial dan korban kebijakan pemerintah.

Penolakan anak sekolah dikarenakan beragama berbeda dengan mayoritas murid disebuah sekolah adalah contoh anak jadi korban intoleransi sebuah sekolah.

Hilangnya bangku sekolah pada anak siswa baru dengan alibi yang dibuat-buat padahal itu haknya karena telah lulus seleksi adalah gambaran masih timpangnya ekonomi negeri ini sehingga orang miskin dipandang sebelah mata, seorang anak tukang parkir diupayakan tidak masuk menjadi murid sebuah sekolahan.

Sering kita jumpai anak-anak mengemis dipanggir jalan, mengamen dalam bis-bis kota, mengais dan memilah sampah-sampah ditumpukan sampah untuk mereka jual dengan harapan mendapatkan segenggam uang untuk membantu meringankan beban orangtua atau untuk membayar biaya sekolah mereka dan uang jajan mereka, walau terkadang mereka dibulyying oleh kawan-kawannya karena kegiatannya. Itu juga bentuk nyata dan riil yang masih banyak kita jumpai sebagi wujud anak menjadi korban kondisi ekonomi.

Orok dibuang ditempat sampah, balita ditelantarkan juga merupakan contoh anak-anak menjadi korban perilaku budaya yang telah terpengaruh oleh majunya teknologi sehingga budaya barat masuk tanpa filter, Free Sex, kumpul kebo, lamaran kari metheng disik, sehingga orok yang bakal jadi anak yang tak diinginkan menjadi korban.

Anak-anak kekurangan gizi atau busung lapar dibeberapa daerah yang mencapai ratusan, juga dampak nyata korban kebijakan ekonomi pemerintah yang membuat orangtua mereka tak bisa membelikan susu dan makanan bergizi bagi anak-anaknya.

Gambaran-gambaran anak-anak beraneka macam yang sering kita jumpai secara kasat mata atau kita lihat, kita dengar, kita baca dari berbagai macam media menunjukkan mereka belum bahagia, mereka belum merdeka.

Membuat mereka gembira dan bahagia bukan sekedar menghibur dengan sulap dihari peringatan saja yang Cuma sehari itu saja, bukan sekedar memberi sepeda buku tas sepatu, atau hanya sekedar memberi KIP. Mereka butuh bahagia yang hakiki, bahagia dari korban kekerasan, bebas dari bullying, bebas dari intoleransi, bebas dari intimidasi dan mereka ingin bebas bahagia menikmati masa kanak-kanaknya.

Semoga dengan peringatan hari anak 23 juli bukan sekedar seremonial semata dengan menghabiskan biaya besar namun diwujudkan dengan tindakan riil agar anak-anak Indonesia ikut Tersenyum Bahagia Hidup dan besar di bumi pertiwi tercinta.

 


TAGS   hari anak / anak indonesia /