Coretan Penaku

Mengajar Dengan Hati

19 Aug 2017 - 12:13 WIB

Pro kontra sekolah 5 hari 8 jam yang terjadi beberapa waktu lalu menjadi sebuah kajian mendalam dalam sistem pendidikan nasional ditengah semakin majunya teknologi dan globalisasi. Tujuan program tersebut untuk membentuk karakter siswa-siswi sekolah dengan menyamakan hari libur sekolah sesuai hari libur kerja orangtua sehingga ada 2 hari bersama keluarga.

Disisi lain yang kontra ide program tersebut juga beralasan sama, takut anak-anak sekolah tersebut tidak bisa ikut madin pada sore hari karena kecapean, dimana madin tersebut juga diklaim bentuk lembaga pendidikdn untuk membentuk karakter santrinya.

Polemik pro kontra tersebut menjadi rancu ketika yang kontra menggelar demo menolak dengan ada beberapa siswa yang teriak kata-kata yang tak etis secara tidak langsung menggambarkan pendidikan karakter di madin yang mereka agungkan hasilnya anak-anak semacam itu dan masih dipertanyakan.

Peran orangtua sangat penting dalam pendidikan karakter anak, akan tetapi diera emansipasi saat ini peran orangtua kepada anak-anaknya sedikit berkurang akibat kedua orangtua sama-sama bekerja sehingga waktu bertemu anak saat anak berangkat sekolah dan saat orangtua pulang kerja yang kebanyakan kelelahan tak ada waktu bersenda gurau dengan anak-anaknya. Sementara banyak waktu anak-anak usai sekolah tanpa pengawasan orangtua. Karena tak ada pengawasan tersebut terkadang tak jarang anak-anak sekolah terlibat pergaulan bebas yang menjerumus kearah kenakalan remaja, tawuran pelajar, sek bebas, hingga narkoba.

Disisi lain peran dan kwalitas serta moral guru juga perlu dikaji dan ditingkatkan sehingga tidak akan terjadi peristiwa “seorang guru kirim chat cabul kepada siswinya” beberapa waktu lalu.

Seperti apa pendidikan anak-anak sekolah yang tepat ? pertanyaan ini mulai sedikit terjawab saat sebuah kebanggaan dan prestasi guru dari negeri ini menjadi guru terbaik sedunia “Mengajar dengan Hati Bawa Dayang Jadi Guru Terbaik Dunia”.

Mengajar dengan hati sebuah ungkapan dan tindakan seorang guru dalam mendidik anak-anak sekolah yang patut dijadikan renungan bagi orangtua, pendidik dan semua yang berkepentingan dalam pendidikan. Mengajar dengan hati entah seperti apa yang diterapkan ibu Dayang tersebut, namun ada satu kata “hati” yang merupakan bentuk perasaan seseorang, seorang pendidik bukan saja berperan sebagai guru namun juga berperan sebagai orangtua bagi anak didiknya.

Endingnya anak-anak sekolah menganggap guru seperti menganggap ibu bapaknya , tak kan ada lagi berita kekerasan guru pada siswanya atau pemukulan, perkataan kotor siswa-siswi pada gurunya.

Pendidikan karakter anak sekolah bukan ditentukan oleh kebijakan menteri semata, bukan oleh ustadz dan guru saja , namun semua pihak bisa berperan sebagai orangtua dirumah bagi anak-anaknya dan berperan sebagai orangtua bagi anak didiknya. Sehingga mengajar dan mendidik mereka dengan hati yang penuh kasih sayang dan perhatian.


TAGS   Guru / Pendidikan / FDS /