Coretan Penaku

Saat Pemilik Harta Dituduh Mencuri Hartanya

22 Aug 2017 - 10:35 WIB

Indonesia 72 tahun yang lalu seakan-akan menjadi Negara yang terbangun setelah ratusan tahun tertidur pulas karena dijajah oleh Negara-negara yang ingin mengusai kekayaan sumber daya alam yang ada di Indonesia. Negara Indonesia tercinta ini terbangun saat ada ramuan kata “Proklamasi’ yang dibacakan oleh sang “Proklamator” yaitu Ir. Sukarno dan Moh Hatta.

Memperingati kemerdekaan RI dengan Proklamasinya yang ke 72 tahun bukan sekedar berbusana tardisional sekaligus memberikan hadiah sepeda pada pejabat, menteri yang berbusana tradisional terbaik tanpa sadar malah menambah anggaran peringatan HUT RI ditengah hutang negara yang kian menggunung.

Seharusnya kita sebagai warga Negara Indonesia sangat bangga dan mengenang kembali sosok Bung Karno salah satu pahlawan Negara yang senantiasa berjuang untuk meraih kemerdekaan, meskipun nyawa yang menjadi taruhannya. Walhasil, kita sampai saat ini bisa bernafas dengan lega karena Indonesia  telah bisa menjadi Negara yang mandiri.

Bung Karno mengingatkan kita betapa bangsa Indonesia ini adalah bangsa yang kaya dengan Sumber Daya Alam (SDA) baik di daratan maupun di laut. Akan tetapi kekayaan SDA ini belum membangkitkan ekonomi nasional dikarenakan tingkat ketergantungan terhadap pranata ekonomi asing sangat tinggi. Dengan melihat fakta ini maka Bung Karno mengemukakan bahwa penting sekali bangsa Indonesia untuk berdiri di atas kaki sendiri dalam mengatur perekonomian demi kesejahteraan rakyat. Ketergantungan yang tinggi terhadap ekonomi bangsa lain menurut Bung Karno tidak akan menjamin kesejahteraan rakyat justru sebaliknya berpotensi menimbulkan resesi ekonomi nasional yang berkepanjangan.

Apa yang menjadi kekhawatiran Bung Karno terbukti, tambang tembaga, emas yang berbentuk gunung di Papua dikuras habis oleh perusahaan asing yang bernama Freeport. Entah berapa trilyun pundi-pundi uang yang dihasilkan dari mengeruk pegunungan yang saat ini kalau kita lihat telah menjadi jurang yang dalam dan terjal. Sementara penduduk asli papua yang notabene pemilik sumber daya alam tersebut masih banyak kita jumpai berkoteka, tak terlindungi dari panas terik matahari dikala siang dan dinginnya malam.

Sebagai orang awam aku hanya tahu kalau Freeport diberi wewenang sekedar untuk mengelola dan mengolah gunung tambang tersebut, bukan memiliki seutuhnya. Namun sangat miris sekali mereka secara kasat mata seperti memiliki gunung tambang tersebut sepenuhnya melebihi pemilik asli sumber daya alam tersebut. Bagi hasil entah apa itu istilahnya hanya dinikmati oleh oknum tertentu elit negeri ini dan dibawa pulang kenegri asal Freeport dan lagi-lagi penduduk asli Papua yang notabene pemilik SDA tersebut dituduh mencuri dengan label “Ilegal”. Sebuah pemandangan yang rancu dan pelabelan yang layaknya apa yang pernah dilakukan para penjajah negeri ini sebelum 72 tahun merdeka.

Betapa tidak pemilik SDA yang berusaha bertahan hidup dan ingin menikmati harta mereka dengan cara mengais-ngais butiran-butiran pasir emas dari limbah Freeport utuk mendapatkan segenggam emas dianggap ilegal dan melanggar hukum, padahal mereka berjuang tanpa mengenal bahaya limbah mercury. Perjuangan mempertaruhkan nyawa demi menikmati secercah hartanya yang telah dirampas asing.

Mereka belum merdeka kawan !!!! harta mereka dirampas kawan !!!

 


TAGS   SDA / Mandiri / Freeport / Papua / Ilegal /