Coretan Penaku

Gulaku Rasanya Masih Manis

30 Aug 2017 - 11:33 WIB

Saat ini masa giling pada industri gula atau pabrik gula yang dikelola PTPN maupun swasta telah memasuki akhir-akhir masa giling seiring mulai berkurangnya tebu dilahan petani. Pada saat ini pula gula-gula para petani mulai jadi dan siap untuk dipasarkan dengan harapan petani tebu mendapatkan hasil dari jerih payahnya menanam selama kurang lebih 6 bulan.

Kalau kita mau sedikit turun dan menengok betapa sengasaranya para petani dalam proses penanaman tersebut tentu akan iba ketika mereka akan menikmati hasil jerih payahnya malah seolah-olah dihambat oleh pemerintah sendiri dengan alibi gula kurang putih, gula tidak memenuhi standard SNI bla bla bla yang ujung-ujungnya hanya cara untuk cari alasan import gula dari luar negeri demi kepentingan segelintir orang pengusaha importir gula.

Ditengah terik matahari buruh tani yang kebanyakan ibu-ibu mulai menanam bibit tebu ditengah terik matahari dengan pengawasan mandor yang seolah-olah seperti menir-menir pada masa penjajahan belanda. Pemupukan, penyiangan hingga jelang panenpun tak terhitung biaya yang dikeluarkan petani. Hingga musim giling tiba penantian untuk memetik hasil jerih payahnya tiba, sungguh terlalu jikalau penantian panjang mereka terhambat dengan istilah gula tidak memenuhi standard konsumsi.

Padahal kalau jeli hasil gula berkualitas atau tidak dikarenakan proses produksi yang dipengaruhi oleh kualitas mesin industri gula yang selama ini kebanyakan sudah usang dari mulai alat penggiling hingga ketel perebus peninggalan Belanda. Adalah naif dengan koar-koar sesumbar swasembada gula dinegeri nan subur ini justeru mematikan semangat petani dalam menanam tebu guna mendukung program swasembada gula tersebut.

Mungkin cara import gula lebih simple, akan tetapi musti dilihat pula untuk kepentingan siapa, siapa yang diuntungkan dari budaya import tersebut ?

Para petani juga pingin menikmati hidup dinegara tercinta ini, mereka ingin mata pencahariannya tetap langgeng disaat maraknya pengangguran walau pendapatan mereka hanya cukup untuk makan seadanya tanpa mimpi memiliki barang mewah.

Jerih payah mereka seharusnya didukung dengan berbagai sarana dari mulai pembinaan, pupuk yang murah hingga perbaikan mesin-mesin industri yang bagus sehingga dapat menghasilkan gula yang bagus pula. Kalau wakil-wakil rakyat dengan partai poltiknya mendapatkan suntikan anggaran berlipat mereka para petani tebu juga mempunyai hak yang sama. Tanpa sadar merekalah pejuang dan penopang kebutuhan pangan negeri ini.

Jangan membuat mereka kecewa hingga melampiaskan amarahnya seperti yang dikutip pada berita :

( Ribuan petani dari sejumlah daerah hari ini berunjuk rasa ke Jakarta. Mereka frustasi karena harga gula di tingkat saat ini dianggap terlalu rendah, yakni hanya Rp 9.700/kg, jauh di bawah biaya pokok produksi (BPP) Rp 10.600/kg.

Di sisi lain, rendahnya harga ini membuat gula mereka belum juga laku dan masih tersimpan di gudang pabrik gula (PG). https://finance.detik.com/industri/d-3618184/kesal-petani-tebu-buang-gula-impor-di-jalan-depan-istana )

Gula berwarna coklat kekuningan ataupun warna putih bersih toh rasanya juga sama-sama manis, tak ada rasa gula asin, asem. Gula mereka masih manis rasanya akankah sebuah kebijakan membuat kehidupan mereka menjadi pahit ?


TAGS   Gula / import / petani /