Coretan Penaku

Reklamasi Hijau

18 Oct 2017 - 11:07 WIB

Pribumi…..pribumi….pribumi satu kata yang lagi Booming saat ini setelah ada pidato perdana Gubernur DKI Jakarta yang baru dilantik beberapa waktu yang lalu. Pro kontra bermunculan hingga ada yang berniat memeja hijaukan, padahal bukan hanya Anies saja yang pernah ucapkan satu kata “Pribumi” Megawati, Jusuf Kalla, Jokowi hingga menteri Susi juga melakukan hal yang sama.

Dalam pidato Anies kata “Pribumi” dikaitkan dengan “Kolonialisme” atau masa penjajahan Belanda dimana saat itu banyak rakyat jelata kaum Pribumi atau kaum Marhaen dikata Bung Karno banyak tertindas.

Sebagai orang awam politik saya membaca statement dalam pidato Anies tersebut sangat berhubungan dengan kedudukan beliau sebagai orang nomor satu di Jakarta. Sejak awal Anies kontra banget dengan Reklamasi yang menurut beberapa orang reklamasi bentuk kolonialisme.

Ah sudahlah saya tidak mau membahas Pribumi, dalam angan saya justeru ingin Peribumi yang cantik. Menarik untuk mencermati reklamasi teluk Jakarta yang pro kontra, dari orang-orang yang cinta kelestarian alam atau Probumi tentu akan menolak keras reklamasi Jakarta yang cenderung merusak tersebut.

Jakarta yang dibangun diatas tanah rawa-rawa menurut berbagai ahli kondisi tanahnya turun bertahap-tahap dan bertambah. Banjir dan genangan air terus ada akibat curah hujan tinggi dan tanah Jakarta yang makin rendah. Endingnya reklamasi dijadikan solusi penanggulangan agar Jakarta tidak tenggelam.

Benarkah Reklamasi untuk cegah Jakarta tidak tenggelam ?

Tanpa disadari salah satu faktor Jakarta banjir adalah karena kurangnya resapan air, serta pepohonan sebagai tonggak utama pencegah banjir berubah menjadi pohon-pohon bethon berupa bangunan gedung-gedung tinggi dan bertingkat.

Untuk mencegah banjir dan tenggelamnya Jakarta mustinya mengembalikan fungsi saluran irigasi dan pohon-pohon hijau yang hilang. Sementara reklamasi yang diperjuangkan oleh fihak tertentu orientasinya bisnis semata, sebab direklamasi tersebut akan dijadikan kawasan hunian dan perbelanjaan dalam kata lain reklamasi untuk dijadikan hutan bethon yang tidak beda jauh dengan kondisi Jakarta saat ini.Belum lagi tanah urukan reklamasi diambil dari pulau lain yang mengancam kerusakan hingga hilangnya pulau tersebut.

Kalau demikian bagaimana bisa dikatakan reklamasi teluk Jakarta untuk selamatkan Jakarta agar tidak tenggelam ?

Sepandai-pandai apapun semut bersembunyi seekor landak akan menciumnya, sepandai-pandai apapun mencari alibi dan alasan untuk memperjuangkan reklamasi teluk Jakarta, rakyat tahu itu demi kepentingan oknum tertentu saja walau bertopeng untuk selamatkan Jakarta.

Kalau memang benar reklamasi teluk Jakarta untuk selamatkan Jakarta agar tidak tenggelam harusnya kawasan reklamasi dijadikan hutan hijau dengan pohon-pohon subur, rimbun (Reklamasi Hijau) bukannya menjadikannya hutan bethon yang justeru malah menambah beban dan merusak lingkungan.

Percayakah reklamasi teluk Jakarta untuk cegah Jakarta tidak tenggelam ?

Saya percaya jika reklamasi tersebut Reklamasi Hijau

 


TAGS   Reklamasi / Probumi / Pribumi / Kolonialisme /