Coretan Penaku

Tapak Tilas Perjalanan Bathin Pahlawan

10 Nov 2017 - 11:07 WIB

Hari ini 10 Nopember , puluhan tahun yang lalu arek-arek Suroboyo dipimpin Bung Tomo berjuang mati-matian untuk mengusir penjajah dari kota Surabaya. Kota Surabaya banjir darah para pejuang tersebut, dikenallah kini sebagai hari Pahlawan dan ditetapkannya kota Surabaya sebagai kota Pahlawan.

Hari ini juga kita sebagai anak bangsa dianjurkan untuk sejenak melaungkan waktu untuk mengheningkan cipta, mengenang dan mendoakan para pejuang tersebut. Walau masih ada rasa enggan kita untuk melakukannya ditengah kesibukan kita hari ini.

Selain upacara bendera peringatan hari Pahlawan 10 november juga diadakan gerak jalan “mojokerto-Surabaya “ sebagai wujud napak tilas mengenang perjalanan para pejuang dari berbagai daerah menuju dan bersatu padu di kota Surabaya untuk mengusir penjajah.

Perjalanan yang menempuh puluhan kilo dengan bercucuran keringat mungkin bisa kita tiru dan lakukan dengan kondisi fisik yang sehat, akan tetapi masih ada perjalanan bathin dari para pejuang tersebut yang layak untuk kita jadikan tauladan dalam mencintai negeri ini.

Perjalanan bathin antara rasa kawatir terhadap anak, isteri, adik kakak keluarga mereka yang mereka tinggalkan untuk berjuang yang belum tentu bisa kembali berkumpul kembali dengan keluarganya. Perjalanan bathin antara kenyamanan kehidupan dengan kepedulian dan kecintaan pada bangsa, yang saat itu tak jarang ada anak bangsa yang milih aman, ongkang-ongkang kaki enggan bertaruh harta dan nyawa demi kemerdekaan bangsanya.

Sebuah menapak tilas perjalanan bathin para pejuang kemerdekaan tersebut yang layak kita teladani dalam membangun negeri ini dengan kerja keras, kejujuran dan ketabahan bukan sekedar ongkang-ongkang kaki mengharap uluran tangan dari pemerintah atas nasib kita namun tak ada sumbangsih nyata kita pada bangsa ini.

Mungkin benar ada yang mengatakan “Mempertahankan Kemerdekaan Lebih Sulit Daripada Memperjuangkan Kemerdekaan” dikarenakan pada masa perjuangan musuhnya nyata yaitu para penjajah, namun saat memeprtahankan kemerdekaan musuhnya adalah sesama anak bangsa sendiri.

Tanpa kita sadari musuh masa perjuangan kemerdekaan dan musuh masa merdeka saat ini adalah sama yaitu diri kita sendiri, para pejuang kemerdekaan berani bertaruh mengorbankan perasaam bathin dirinya sendiri untuk kepentingan bangsa agar merdeka.

Sudahkah hal yang sama kita korbankan bathin diri sendiri untuk kepentingan bangsa diera kemerdekaan ini ?

Fenomena masih maraknya korupsi, kepentingan golongan, perbedaan dan ketimpangan ekonomi yang sarat kita dengar hingga detik ini adalah gambaran dan tolok ukur kita yang mengaku anak bangsa dan cinta Negara Kesatuan Republik Indonesia belum menapak Tilas perjalanan bathin para pahlawan negeri ini, yang berjuang bersatu padu tanpa mempertanyaan kamu agama apa? Elo dari suku mana ? ente orang mana ? semuanya tenggelam dalam satu kesatuan dan satu tujuan mengusir penjajahan dibumi pertiwi.

Semoga dengan peringatan hari Pahlawan 10 November ini bukan sekedar seremoni upacara bendera atau sekedar menunduk mengheningkan cipta, namun juga bertindak riil, nyata menapak tilas perjalanan bathin mereka para Pahlawan untuk kita terapkan saat ini, detik ini juga demi bangsa.


TAGS   Pahlawan / 10 Nopember / Arek-arek Suroboyo /