Coretan Penaku

  • Budaya /
    1 Aug 2017

    Ketika Anak Negeri Tak Dianggap

    Masih tergiang ditelinga kita beberapa seni budaya Nusantara diklaim oelh negara asing sebagai seni budaya milik negerinya. Salah satu penyebab diklaimnya seni budaya tersebut karena kita sebagai anak bangsa sudah mulai luntur untuk mencintai dan melestarikannya sendiri. Saat tengah perlunya kembali mencintai seni budaya nusantara yang terbalut dalam keanekaragaman dan kebhinneka tunggal ika-an negara kesatuan republik Indonesia yang mencerminkan beragam aneka macam seni budaya yang patut diacungi jempol , terdengar sebuah berita yang memprihatinkan, justeru kalangan elite pemerintahan saat ini cenderung lebih mempopulerkan budaya asing daripada seni budaya anak negeri. “SNSD dan Revolusi yang Belum Selesai” sebuah kolom berita didetik.com yang coba mengkritisi ide terhadap
  • Sosial / Budaya /
    7 Jul 2017

    Belajar dari "Ndeso"

    “Ndeso “ satu kata yang saat ini lagi populer karena diucapkan oleh seorang anak presiden, Katrok, Ndeso tanpa kita sadari juga pernah kita dengar dalam acara yang dibintangnya Tukul Arwana disebuah televisi swasta. Ndeso yang mempunyai arti ketinggalan jaman, katrok, udik , kampungan yang identik dengan penduduk desa. Penduduk desa yang kurang maju kebudayaannya, kurang maju pendidikannya serta teknologinya. Ndeso juga diartikan ketinggalan jaman, karena mereka masih memegang teguh adat istiadat dan budaya dalam kehidupan sehari-hari, secara tidak sadar pula orang ndeso masih murni tidak terpengaruh dari budaya asing yang masuk akibat semakin majunya teknologi informasi. Apakah satu kata “Ndeso” merupakan bentuk ujaran kebencian atau sekedar guyonan, hal tersebut
  • Gaya Hidup / Budaya /
    21 Apr 2017

    Agar Tuhan Tidak Bosan

    Mengutip satu bait lirik lagu Berita Dari Kawan karya Ebiet G Ade Mungkin Tuhan mulai bosan Melihat tingkah kita yang selalu Salah dan bangga dengan dosa-dosa Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita Cuba kita bertanya pada rumput yang bergoyang Patut jadi renungan kenapa akhir-akhir ini negeri ini selalu ada musibah dari mulai banjir hingga tanah longsor dengan membawa korban. Bencana banjir bandang, jelas bukan ‘takdir’ Tuhan. Tapi, terkait erat dengan perbuatan yang dilakukan manusia. Banjir terjadi, karena daya dukung lingkungan yang rusak sehingga alam murka. Penebangan pohon secara brutal dan liar mengakibatkan hutan jadi gundul, pohon-pohon sebagai penahan dan penyerap air hujan habis. Banjir dan longsor dari tahun ke tahun terus meningkat. Meningkatnya banjir da
  • Opini / Sosial / Budaya /
    20 Feb 2017

    Memupuk Rasa Pengabdian Yg Hilang

    Pengabdian, mengabdi seolah-olah hanya jadi jargon semata dan hanya ucapan seremonial saat sumpah jabatan diberbagai instansi pemerintahan. Sedikit kita tengok syai lagu padamu negeri : Padamu negeri kami berjanji Padamu negeri kami berbakti Padamu negeri kami mengabdi Bagimu negeri jiwa raga kami Sebuah lagu yang diilhami masa perjuangan para pahlawan dalam memperjuangkan kemerdekaan NKRI dari tangan penjajahan Belanda, Portugis, Jepang. Semangat pengabdian memberi yang terbaik bagi kemerdekaan bangsa dan negara dengan mengutamakan kesejahteraan bersama. Tak ada impian honor, gaji, jabatan, pangkat yang mereka impikan dalam perjuangan tersebut yang ada keikhlasan karena pengabdian tulus pada bangsa. 72 tahun yang lalu bentuk “Pengabdian” sejati yang kita lihat dari para pej
  • Opini / Sosial / Budaya /
    16 Feb 2017

    Lunturnya Nilai-nilai Luhur Pancasila

    Kesantunan adalah tata cara, adat, atau kebiasaan yang berlaku dalam suatu masyarakat. Kesantunan merupakan aturan perilaku yang ditetapkan dan disepakati bersama oleh suatu masyarakat tertentu sehingga kesantunan sekaligus menjadi prasyarat yang disepakati oleh perilaku sosial. kesantunan antara anak dan orangtua, antara orang yang masih muda dan orang yang lebih tua, antara tuan rumah dan tamu, antara pria dan wanita, antara murid dan guru, pemimpin dan rakytanya dan sebagainya. Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara merupakan kesepakatan politik ketika negara Indonesia didirikan sampai sekarang memasuki perkembangan global. Sebagai dasar negara tentulah pancasila harus menjadi acuan negara dalam menghadapi tantangan global dunia yang terus berkembang. Pancasila sebagi kepribadia
  • Sosial / Budaya /
    4 Feb 2017

    Perlukah Periksa Jenis Kelamin ?

    Beberapa hari yang lalu ada sebuah berita yang mengejutkan, sebagaimana yang dikutip dari media massa sebagai berikut : “Kasus pasangan sejenis yang membuang bayinya di semak-semak masih menjadi perbincangan warga Lingkungan III, kelurahan Muara Sentosa, Kecamatan Sei Tualang Raso, Tanjungbalai, Sumut. Pasalnya, kejadian pada Kamis (2/2) tersebut, cukup mengejutkan warga karena bayi malang itu lahir dari rahim wanita yang menyaru sebagai laki-laki saat pernikahan. Farel, 25, yang diketahui warga sebagai pria menikahi Sal, 21, tiba-tiba hamil dan membuang bayinya di semak, belakang rumah warga. Hal inipun langsung membuat geger warga, dan keluarga Sal. Sejatinya sebagai seorang istri Sal, mengaku sangat menyayangi pasangannya Farel yang menjadi suaminya. Menurut Sal, selama ini Farel
  • Budaya / Coretan Opini /
    21 Mar 2016

    Pesantren Bukan Untuk Anak Nakal

    Dua kutipan singkat berita detik berikut ini miris namun patut dicerna untuk diambil hikmahnya, adapun kutipan berita tersebut adalah sebagai berikut : Bahaya narkoba terus membayangi kehidupan di Indonesia. Bahkan menurut Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Budi Waseso narkoba sudah disalahgunakan hingga lingkup pesantren. “Narkotika sudah masuk ke kalangan santri terutama di daerah Jatim. Santri, dia zikir dari pagi ke pagi pakai ekstasi, bukan cuma santrinya tapi kyainya juga,” ungkap Komjen Budi di kantornya, Jl MT Haryono, Cawang, Jaktim, Jumat (4/3/2016). Sumber : http://news.detik.com/berita/3157946/komjen-buwas-saat-ini-ada-ekstasi-dipakai-zikir-di-pesantren Melanggar disiplin, seorang santri Pondok Pesantren Al-Aziziyah, Desa Denanyar, Kecamatan Kota Jombang tewas s
  • Sosial / Budaya /
    18 Feb 2016

    Ketika Kupu-kupu Malam Dipolitisasi

    Ketika kupu-kupu malam dipolitisasi adalah coretan saya dihari kamis pagi ini, menanggapi sebuah fenomena lokalisasi Kalijodo tempat para kupu-kupu malam mencari nafkah untuk bertahan hidup. Kupu-kupu malam menjadi trending topik diberbagai media setelah mencuat kasus kecelakaan mobil mewah yang menewaskan beberapa orang akibat mabuk dikawasan lokalisasi tersebut. Berbagai politikus unjuk gigi-nya dengan berbagai statement, ide dan solusi terhadap lokalisasi tersebut. Sebuah kepedulian yang patut diacungi jempol, namun tersirat sebuah pertanyaan kenapa baru sekarang mereka peduli pada nasib para kupu-kupu malam tersebut, kemarin ngapain ? Sebuah pertanyaan yang relevan sebab ujung-ujung dari bentuk kepedulian tersebut adalah demi proses politik pilkada yang akan digelar pada tahun depan
  • Budaya / Coretan Opini /
    1 Feb 2016

    Memupuk Budaya Makan

    Beberapa waktu yang lalu Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani meminta agar rakyat miskin diet dan kurangi makan. Gurauan Puan ini kemudian menjadi polemik. Puan dinilai tidak peka terhadap situasi dan kondisi rakyat miskin. Diet kata-kata yang sulit muncul dikalangan rakyat miskin, sebab bagi mereka rasa lapar mereka alami setiap waktu tanpa harus diet demi melangsingkan tubuh. Terlepas dari kontroversi ucapan menteri tersebut ada sebuah permasalahan besar yang dihadapi rakyat negeri ini yaitu permasalahan pangan yang belum terpenuhi dinegeri yang tanahnya subur ini sehingga import dilakukan guna memenuhi sebuah kata “beras”. Beras menjadi salah satu makanan utama rakyat Indonesia yang sulit tergantikan hingga menjadi sebuah gengsi dan bentuk status ekonomi

Author

Djoen.ID

Coretan Terbaru

Yang Corat Coret