Coretan Penaku

  • Opini / Sosial /
    24 Mar 2017

    Membuka Dialog Hati

    Beberapa hari yang lalu terdengar berita miris meninggalnya ibu Patmi karena jantung, petani yang berjuang menolak pembangunan pabrik semen yang bisa mengancam masa depan matapencaharian mereka sebagai petani demi menyambung hidup dan membesarkan anak-anaknya. Kejadian penolakan pembangunan industri bukan hanya terjadi pada satu tempat saja namun ada diberbagai daerah di Indonesia dengan alasan sama masa depan mereka ketika industri atau program pembangunan lain mengancam mata pencaharian mereka. Mereka kawatir tak dapat memanen padi lagi saat industri tersebut berdiri karena dampak negatif yang berupa limbah dan polusi serta berkurangnya lahan pertanian. Lahan pertanian yang mereka rawat sejak kecil dengan menanami berbagai macam tanaman dari mulai padi, jagung, palawija merupakan kebu
  • Gaya Hidup / Sosial /
    6 Mar 2017

    Miskin Batin

    “Saya ini memang miskin. Tapi batin saya tidak miskin,“ kalimat yang terucap dari mbah Sadiyo seorang pencari rongsokan dengan penghasilan yang tak menentu rela menyisihkan hasil pekerjaannya untuk menambal jalanan aspal yang berlubang demi keselamatan ratusan hingga ribuan pengendara yang melewati jalan tersebut. Meski penghasilannya tidak seberapa, Sadiyo selalu menyisihkan sebagian uang untuk membeli semen. Semen tersebut dia gunakan untuk menambal jalan yang berlubang. Di bawah terik sinar matahari, tampak Mabah Sadiyo sedang menurunkan dua karung semen dari becaknya, di jalan Desa Gondang-Tunjungan. Berita aksi Mbah Sadiyo dengan ungkapan “batin saya tidak miskin” seolah menjadi cambuk bagi kita semua. Jalan-jalan berlubang banyak kita jumpai dan lewati, terl
  • Opini / Sosial / Budaya /
    20 Feb 2017

    Memupuk Rasa Pengabdian Yg Hilang

    Pengabdian, mengabdi seolah-olah hanya jadi jargon semata dan hanya ucapan seremonial saat sumpah jabatan diberbagai instansi pemerintahan. Sedikit kita tengok syai lagu padamu negeri : Padamu negeri kami berjanji Padamu negeri kami berbakti Padamu negeri kami mengabdi Bagimu negeri jiwa raga kami Sebuah lagu yang diilhami masa perjuangan para pahlawan dalam memperjuangkan kemerdekaan NKRI dari tangan penjajahan Belanda, Portugis, Jepang. Semangat pengabdian memberi yang terbaik bagi kemerdekaan bangsa dan negara dengan mengutamakan kesejahteraan bersama. Tak ada impian honor, gaji, jabatan, pangkat yang mereka impikan dalam perjuangan tersebut yang ada keikhlasan karena pengabdian tulus pada bangsa. 72 tahun yang lalu bentuk “Pengabdian” sejati yang kita lihat dari para pej
  • Opini / Sosial / Budaya /
    16 Feb 2017

    Lunturnya Nilai-nilai Luhur Pancasila

    Kesantunan adalah tata cara, adat, atau kebiasaan yang berlaku dalam suatu masyarakat. Kesantunan merupakan aturan perilaku yang ditetapkan dan disepakati bersama oleh suatu masyarakat tertentu sehingga kesantunan sekaligus menjadi prasyarat yang disepakati oleh perilaku sosial. kesantunan antara anak dan orangtua, antara orang yang masih muda dan orang yang lebih tua, antara tuan rumah dan tamu, antara pria dan wanita, antara murid dan guru, pemimpin dan rakytanya dan sebagainya. Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara merupakan kesepakatan politik ketika negara Indonesia didirikan sampai sekarang memasuki perkembangan global. Sebagai dasar negara tentulah pancasila harus menjadi acuan negara dalam menghadapi tantangan global dunia yang terus berkembang. Pancasila sebagi kepribadia
  • Opini / Gaya Hidup / Sosial /
    13 Feb 2017

    Jadikan Musibah Sebagai Tuntunan Bukan Tontonan

    Semakin majunya jaman serta akibat pengaruh globalisasi budaya sebuah bangsa juga ikut berubah. Tengoklah dahulu ketika ada musibah kematian, anak-anak kecil pada ketakutan untuk melihat apalagi mendatangi kuburan saat dimakamkan, begitupula dengan orangtua masa itu juga mewanti-wanti agar anaknya tidak melihat mayat orang yang meninggal. Kini berbeda jauh sering kita lihat anak-anak kecil ikut melihat, mengunjungi hingga ikut kemakam orang yang meninggal untuk dikuburkan. Sebuah pembentukan perilaku yang mengalami kemajuan dari pengaruh bentuk mistik kuno, tahayul, dan sejenisnya. Akan tetapi saat ini pula karena terlalu majunya perilaku tersebut  sehingga melampui norma-norma yang ada. Banyak kita jumpai orang berkerumun untuk melihat dan mendatangi musibah kecelakaan, bencana al
  • Sosial / Budaya /
    4 Feb 2017

    Perlukah Periksa Jenis Kelamin ?

    Beberapa hari yang lalu ada sebuah berita yang mengejutkan, sebagaimana yang dikutip dari media massa sebagai berikut : “Kasus pasangan sejenis yang membuang bayinya di semak-semak masih menjadi perbincangan warga Lingkungan III, kelurahan Muara Sentosa, Kecamatan Sei Tualang Raso, Tanjungbalai, Sumut. Pasalnya, kejadian pada Kamis (2/2) tersebut, cukup mengejutkan warga karena bayi malang itu lahir dari rahim wanita yang menyaru sebagai laki-laki saat pernikahan. Farel, 25, yang diketahui warga sebagai pria menikahi Sal, 21, tiba-tiba hamil dan membuang bayinya di semak, belakang rumah warga. Hal inipun langsung membuat geger warga, dan keluarga Sal. Sejatinya sebagai seorang istri Sal, mengaku sangat menyayangi pasangannya Farel yang menjadi suaminya. Menurut Sal, selama ini Farel
  • Politik / Opini /
    31 Jan 2017

    Kepedulian Semusim

    Saat ini musim pemilihan kepala daerah atau lebih dikenal dengan Pilkada diberbagai daerah di Indonesia. Bermunculanlah para calon pemimpin diberbagai daerah tersebut dengan berbagai jargon politiknya masing-masing hingga ada yang menganggap pemilihan dirinya sebagai pelayan rakyat walaupun mengingkari dirinya diplih untuk jadi leader didaerahnya masing-masing. Perolehan suara kunci utama kesuksesan mereka untuk meraih kursi kepemimpinan mereka idamkan. Tak pelak berbagai cara untuk memperoleh simpati calon pemilih dari mulai menutupi rapat aib dirinya diringi membuka lebar-lebar aib lawan-lawannya yang adu dalam ajang kampanye. Uangpun berhamburan dikeluarkan hingga miliaran rupiah untuk promosikan diri mereka dengan mudahnya tidak seperti hari-hari biasa yang cenderung sulit untuk kel
  • Politik / Opini /
    27 Jan 2017

    Kenapa Ahok di Jakarta ?

    Akhir-akhir ini situasi perpolitikan panas hampir meluas hingga kebeberapa daerah, akibat kurang pandainya sifulan menjaga mulutnya sehingga berakibat dirinya jadi terdakwa kasus penistaan agama. Yang menarik panasnya situasi moment jelang pilkada menyebar kepelosok negeri. Publik dan media terfokus pada panasnya perseteruan sifulan cagub petahana dengan lawan-lawan politiknya. Hebatnya juga tokoh-tokoh politik senior, dari mantan presiden konsentrasi penuh pada ajang politik di Jakarta. Bahkan aparat penegak hukum didaerahpun ikut terbawa arus politik di Jakarta. Sehingga publik tidak bisa membedakan mana kasus hukum penistaan agama dan mana ajang serang moment pilkada Jakarta. Kasus penistaan agama yang sejatinya sebuah kasus seorang warga negara melawan hukum dibawa-bawa keranah polit
  • Opini / Ekonomi /
    26 Jan 2017

    Pedasnya Harga Cabe Yg tak Dinikmati Petani

    Beberapa waktu lalu publik disibukkan dengan mencuatnya harga cabe rawit yang semakin pedas hingga mengalahkan harga jual kebutuhan pokok lainnya. Fenomena naiknya harga hasil pertanian senantiasa ada setaip tahunnya dikarenakan permintaan tak seimbang dengan persediaan barang dikarenakan gagal panen atau tidak ada petani yang menanamnya. Namun jarang sekali kita menengok jerih payah petani dalam menghasilkan produk tersebut yang terkadang membuat mereka enggan untuk menanam karena saat panen harga jatuh terjerembab hingga petani tak dapat keuntungan sama sekali. Dimasa lalu Didesa pelosok tertinggal bertani sebuah kegiatan untuk menyambung hidup, hasil pertanian yang mereka peroleh digunakan untuk makan, terbiasa mereka menyimpannya dilumbung-lumbung yang mereka miliki, sedikit demi sed
  • Opini /
    14 Dec 2016

    Bukan #AirMataBuaya

    #AirMataBuaya taggar yang lagi naik populer naik daun saat Sifulan menangis disidang pada kasus penistaan agama. Taggar itu muncul karena beberapa kalangan menganggap tangisan tersebut hanya sandiwara untuk mencari simpati dan empati pada dirinya dalam mendongkrak kembali suaranya pada pilgub . Tuduhan #AirMataBuaya tersebut ada benarnya juga ada salahnya karena kita semua tidak tahu isi hati dari yang menangis itu sendiri. Saya tidak mau berpolemik soal tangisan dipersidangan tersebut, yang menarik ada guyonan ala warung kopi saat menonton live persidangan tersebut mengomentari tuduhan #AirMataBuaya, “ Itu bukan #AirMataBuaya, sebab Sifulan laki-laki bukan ibu-ibu “…” Bukan #AirMataBuaya, Sifulan manusia bukan hewan “….. Komentar lucu ala warung kopi

Author

Djoen.ID

Coretan Terbaru

Yang Corat Coret